Tampilkan postingan dengan label Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juli 2016

Blokir Jalan Tol, Massa Kibarkan Bendera Raksasa Tolak Reklamasi di Teluk Benoa

Foto-foto ForBali


RIBUAN massa ke Selain melakukan aksi longmarch, penolakan reklamasi Teluk Benoa dilakukan dengan melakukan pengibaran bendera ForBALI yang berukuran 8 x 6 meter di tengah Teluk Benoa. Pada saat dilakukan pengibaran bendera di tengah Teluk Benoa, ribuan massa aksi melakukan pemblokiran jalan tol dan menyaksikan pengibaran bendera tolak reklamasi di tengah-tengah teluk benoa tersebut  dari atas jalan tol. Pengibaran bendera tolak reklamasi teluk benoa oleh para pemuda merupakan simbol, Teluk Benoa milik rakyat Bali dan simbul perjuangan penolakan reklamasi teluk benoa yang tidak ada henti.
mbali turun menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali, Minggu (10/7). Mereka mulai bergerak dari tempat berkumpul, yakni Lapangan Lagoon, Nusa Dua pada pukul 14.30 berjalan secara perlahan-lahan dengan membawa panji-panji dan juga meneriakkan yel-yel tolak reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres 51 tahun 2014. Mereka berjalan kaki sekitar 700 meter sambil melakukan orasi.
Sesampai di perempatan by pass Ngurah Rai, Nusa Dua, kesempatan pertama orasi pertama disampaikan oleh Bendesa Adat Bulau, I Wayan Wita. Ia mengajak masyarakat Bali untuk terus berjuang mempertahankan kawasan suci Teluk Benoa. "Mari kita lanjutkan perjuangan. Kemarin saja air laut sudah naik. Jangan sampai Desa Bualu tenggelam," tegasnya dari atas mobil komando.
Selanjutnya, orasi dilakukan oleh Sesepuh Banjar Mumbul, Prof. Nyoman Gelebet di tengah riuhnya massa aksi. "Teluk Benoa merupakan Teluk yang bertemunya 5 mata air, yang kami sebut campuhan Agung. Maka dari itu, Teluk Benoa dilarang untuk disentuh karena merupakan  kawasan suci," ujar pria berambut putih yang juga dosen arsitek ini.
Usai orasi, dilanjutkan dengan pembacaan surat deklarasi STT se Desa Adat Bualu yang pada dasarnya merasa resah dengan rencana ngurug laut seluas 700 hektar di Teluj Benoa untuk kepentingan investor semata. "Sebagai generasi muda, kami merasa resah. Untuk itu, kami menolak reklamasi Teluk Benoa baik secara sosial budaya dan lingkungan," ungkap perwakilan STT se Desa Adat Bualu, I Wayan Suyasa dalam deklarasinya di atas mobil komando.
Usai deklarasi. Aksi ini pun berlanjut dengan orasi dari perwakilan Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Di Awali oleh Bendesa Adat Buduk. Ia menegaskan, jika ada yang mengatakan bahwa Teluk Benoa bukan kawasan suci karena kotor, Bendesa meminta agar yang bersangkutan untuk belajar agama lagi.
Hal senada juga diungkapkan oleh Bendesa Adat Kuta, Nyoman Swarsa dalam orasinya. Ia menekankan, Teluk Benoa adalah kawasan suci. "Jika bukan kawasan suci, saat rahinan tumpek landep kemarin, untuk apa melakukan ritual keagamaan di karang tengah dan lainnya oleh masyarakat pesisir," ujarnya.
Diketahui sebelumnya, ada 38 Desa Adat diseluruh Bali yang tergabung dalam Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Data yang disampaikan pun, total ada 83.000 KK yang tergabung didalamnya. Sehingga dapat dinyatakan ada 300.000 jiwa yang siap puputan (perang habis-habisan) untuk menolak rekkamasi Teluk Benoa.
Orasi selanjutnya dilakukan oleh Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Rekkamasi Teluk Benoa (ForBALI), Wayan Gendo Suardana yang membakar semangat massa aksi. "Tidak ada jalan lain selain puputan jika pemerintah memaksakan kehendak investor untuk mereklamasi Teluk Benoa," tegasnya.
Dalam penjelasannya, rencana reklamasi ini bisa lanjut jika Mentri Pudjiastuti memberikan perpanjangan izin kepada PT. TWBI yang diajukan sebelumnya. "Kami sampaikan dukungan penuh kepada Ibu Menteri Susi dan pemerintahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk tidak memberikan perpanjangan izin reklamasi kepada pihak investor," Ujar Gendo.
Pihaknya juga mengaku sudah melayangkan surat, melalui pasubayan Desa Adat kepada Kementrian tertanggal 1 Juli untuk surat penolakan perpanjangan izin lokasi. "Hal ini penting dilakukan, sebab Ibu Susi, berdasarkan peraturan punya waktu 14 hari untuk membalas surat dari pihak Investor, apakah menolak atau menerima pengajuan izin yang layangkan oleh investor," katanya.
Sehingga, lanjut Gendo menjelaskan, diperkirakan hari Rabu atau Kamis ini, seharusnya Menteri Susi Pudjiastuti untuk bersikap dan menguji keberpihakan Menteri Susi, apakah memihak kepada rakyat atau investor. "Pasubayan Desa Adat sudah bersurat kepada Menteri Susi. Jika Menteri Susi mengabaikannya, artinya sama saja Menteri Susi melecehkan Adat Bali. Untuk itu, kami meminta agar Menteri Susi berani bersikap dan pro kepada Rakyat Bali yang menolak perpanjangan ijin lokasi reklamasi Teluk Benoa. Menteri Susi seharusnya berani melakukan penolakan ijin reklamasi karena rakyat serius berjuang untuk menolak reklamasi" ujarnya.
Apa yang terjadi jika Menteri Susi mengabaikan atau melecehkan surat pasubayan desa adat? Menurut Gendo,kalau ijin tersebut diperpanjang maka kita tidak punya pilihan lain kecuali perang habis – habisan. " puputan, puputan, puputan " tandas Gendo.
Aksi menolak reklamasi yang berlangsung kurang lebih dua jam. Usai menyampaikan orasinya, massa aksi kemudian berbalik arah ke lapangan Lagoon Nusa Dua dan selanjutnya melakukan konvoi menuju jalan Tol Bali Mandara. Seraya menyaksikan pengibaran bendera penolakan reklamasi Teluk Benoa di tengah Teluk Benoa, massa aksi ini pun kemudian memblokir dan menduduki Tol Bali Mandara. (ForBali)





Minggu, 26 Juni 2016

Delapan Sekaa Teruna Kusamba Deklarasi Tolak Reklamasi Teluk Benoa


SEBANYAK delapan Sekaa Teruna (organisasi pemuda adat) di Desa Kusamba, Klungkung, menggelar aksi deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa di Desa Kusamba, Klungkung, Minggu (26/6). Delapan sekaa tersebut di antaranya adalah ST. Mekar Sari, ST. Putra Segara, ST.Dharma Satya Kencana, ST.Dhala Bhuana, ST. Chanti Graha, ST.Chanti Budaya, ST.Satya Warma, ST. Sahadewa.
Mereka menggelar aksi deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Kusamba, Klungkung. Aksi deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa juga dihadiri oleh organisasi dan komunitas dari desa-desa lain dan kabupaten lain di Bali untuk bersolidaritas terhadap deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa oleh pemuda di Kusamba.
Meskipun sebelum aksi dirudung hujan, ribuan massa aksi tetap memadati lokasi deklarasi. Di dalam aksi tersebut, perwakilan dari masing-masing Desa yang menolak reklamasi Teluk Benoa menyampaikan orasi penolakan reklamasi Teluk Benoa.
Di dalam deklarasinya, Sekaa Teruna dan pemuda desa Kusamba yg diwakili oleh Ketut Agus menyatakan sejak saat deklarasi tersebut mereka menyatakan dengan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa. “kami pemuda-pemuda kusamba dengan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa, batalkan Perpres nomor 51 tahun 2014” ujar Agus membacakan pernyataan sikapnya.
Agus menceritakan bahwa sebagai anak yang lahir dan besar di daerah pesisir pantai merasakan betul dampak reklamasi dari pulau serangan. Pantai di Kusamba yang dulu luas pantainya berhektar-hektar kini luasnya hanya tinggal tinggal sejengkal. “Apakah kita mau pantai kita habis, sehingga anak cucu kita nanti tidak punya pesisir lagi ?” tanya Agus yang disambut oleh massa aksi. Karena alasan tersebut dia mengajak teman-temanya dari Kusamba untuk terus bergerak menolak reklamasi Teluk Benoa.


Di dalam pernyataan sikapnya, Agus juga mengkritik para pejabat yang diam namun, meskipun para pejabat itu diam mereka akan terus bergerak untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “Saat mereka (para pejabat) diam terkait reklamasi, kami pemuda Kusamba dengan tegas menolak reklamasi teluk benoa. Tolak reklamasi” ujarnya.
Selain pembacaan deklarasi pernyataan sikap oleh pemuda Kusamba, juga ada orasi dari perwakilan komunitas yang tersebar di seluruh  Bali. Seperti yang disampaikan oleh Wayan Inguh perwakilan dari Denpasar. Inguh menyebut deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa oleh pemuda kusamba adalah bentuk dari Dharmaning Ksatrya mahotama yaitu kewajiban utama seorang ksatria. “Hari ini pemuda kusamba klungkung menunjukan sikap ksatryanya dengan mendeklarasikan dirinya untuk berjuang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa” kata Wayan Inguh usai menyampaikan orasinya.
Sementara itu, wayan gendo suardana, koordinator ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa) menyatakan deklarasi oleh pemuda kusamba sebagai pembuktian bahwa gerakan tolak reklamasi teluk benoa tidak akan surut. Di dalam gerakan tolak reklamasi ini mereka menyatakan tidak akan pernah takut ditempa panasnya terik matahari dan juga hujan bahkan juga di intimidasi. Akan lebih menakutkan menurutnya ketika hati nuraninya beku melihat ketidakadilan “Inilah barisan militant Bali Tolak Reklamasi. Kita tidak pernah takut sinar matahari, kita tidak pernah takut ditempa cuaca, kita tidak pernah takut diintimidasi, yang kita takutkan adalah ketika hati nurani kita beku dan diam melihat ketidakadilan” ujar Gendo Suardana.
Di dalam orasinya, Gendo Suardana juga menjelaskan keterlibatan Made Mangku Pastika meng-create dan mendukung upaya mereklamasi Teluk Benoa, sampai akhirnya muncul Perpres 51 Tahun 2014. Penjelasan tentang keterlibatan Gubernur Bali tersebut menurutnya adalah sebagai jawaban terhadap pendapat Mangku Pastika yang mengaku dirinya dikambing hitamkan. “Made Mangku Pastika yang meng- create dan mendukung penuh upaya mereklamasi Teluk Benoa, dari menerbitkan SK Reklamasi sampai akhirnya mengajukan perubahan status konservasi Teluk Benoa hingga muncul Perpres 51 tahun 2014” papar Gendo.
Didalam orasinya, Gendo membantah berbagai tudingan yang menyatakan gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa hanyalah gerakan yang sentiment terhadap pribadi Made Mangku Pastika karena dia Gubernur dari Bali Utara. Ia juga meyakini bahwa mereka tidak pernah benci dengan pribadi Made Mangku Pastika karena berasal dari Bali Utara. “Tudingan itu tidak benar kawan-kawan dari manapun gubernurnya, kita tidak pernah akan benci kalau gubernurnya bisa mendengarkan suara rakyat” ujar gendo. Gendo menambahkan Made mangku pastika akan didukung sepenuhnya jika berbuat baik terhadap bali, akan tetapi jika tidak bisa melihat dan mendengar aspirasi rakyatnya seperti sekarang maka akan mereka akan melawan sehabis – habisnya.
“Kita akan melawan rezim siapa pun, dengan gerakan yang sebesar ini dengan upaya menyelamatkan Teluk Benoa seperti ini kita takan pernah mundur” ujar Gendo.
Selain di isi orasi, aksi deklarasi oleh pemuda klungkung juga diisi oleh panggung musik dan juga gong baleganjur. Usai menggelar aksi deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, massa aksi membubarkan diri dengan tertib. (ForBali)



Rabu, 22 Juni 2016

Semeton Tanjung Bungkak Beri “Kado” Baliho Tolak Reklamasi untuk Gubernur


SEMETON Tanjung Bungkak, Denpasar memberikan “kado ulang tahun” kepada Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika yang pada Rabu (22/6) berusia 65 tahun. Kado tersebut berupa kado aspirasi dari Semeton Tanjung Bungkak yang mendirikan 3 Baliho berukuran 2x3 meter dengan tulisan Semeton Tanjung Bungkak, Tolak Reklamasi Teluk Benoa.
Pendirian 3 buah baliho ini merupakan baliho pertama kali yang berdiri di wilayah Desa Adat Tanjung Bungkak. Pendirian tersebut untuk menegaskan bahwa warga masyarakat di Desa Adat Tanjung Bungkak yang tergabung didalam Semeton Tanjung Bungkak menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Hal ini disampaikan Putu Adi Nayana, selaku Koordinator Semeton Tanjung Bungkak disela pemasangan di 3 titik yakni Jalan Narakusuma, Jalan Akasia dan Depan Pura Dalem Tanjung Bungkak. “Tujuannya untuk menegaskan jika kami menolak reklamasi Teluk Benoa dan meminta kepada pak Presiden untuk membatalkan Perpres 51 tahun 2014,” terangnya.
Pada hari pendirian baliho, juga bertepatan dengan ulang tahun dari Gubernur Bali, ditanya pesan apa yang ingin disampaikan kepada Gubernur Bali, Putu Adi menyampaikan kepada Gubernur untuk segera mengambil keputusan atas rencana reklamasi Teluk Benoa ? “Kami berpesan agar segera memberikan keputusan, jangan memPHP-kan (Pemberi Harapan Palsu, Red) semeton yang menolak reklamasi,” tuturnya.
Putu Adi menyampaikan agar Gubernur Bali Mangku Pastika jangan mengorbankan lingkungan dengan alasan demi pariwisata, karena menurutnya pariwisata dapat ditingkatkan dengan menjaga budaya, bukan dengan reklamasi. “Kita tidak butuh reklamasi, yang perlu kita tingkatkan adalah budaya kita, karena dari menjaga kualitas budaya itu kita bisa meningkatkan pariwisata,” ujar warga Banjar Sebudi ini.
Gerakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa terus meluas seiring dengan pendirian baliho tolak reklamasi Teluk Benoa oleh Semeton Tanjung Bungkak.  Semeton Tanjung Bungkak yang berada di Desa Adat Tanjung Bungkak yang memiliki 3 Banjar, di antaranya Banjar Tanjung Bungkak Kelod, Tanjung Bungkak Kaja dan Banjar Sebudi ini pun bertekad akan terus berjuang demi melestarikan budaya dan lingkungan di Bali bersama masyarakat lainnya. (ForBali)


                                                                

Minggu, 29 Mei 2016

Deklarasi Tolak Reklamasi Desa Adat Renon Diikuti Puluhan Ribu Orang



Sekitar dua puluh ribuan rakyat Bali mengikuti deklarasi tolak reklamasi Teluk Benoa oleh Desa Pakraman Renon, Denpasar Minggu (29/05). Mereka bergerak menyuarakan aspirasi penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sambil membawa bendera putih bertuliskan ForBali.

MENUJU lokasi deklarasi Desa Pakraman Renon, puluhan ribu massa dari seluruh Desa Pakraman yang tergabung dalam Pasubayan Desa Pakraman dan komunitas-komunitas di luar Desa Pakraman bekumpul di Parkir Timur Lapangan Renon pada pukul 14.00 selanjutnya melakukan longmarch menuju perempatan pasar, Desa Pakraman Renon melewati Jalan Moh. Yamin, Jalan Pemuda, Tukad Yeh Aya dan Jalan Tukad Balian. Di perempatan Pasar Desa Pakraman Renon, massa aksi yang mengikuti longmarch menjemput massa aksi dari Desa Pakraman Renon dan disambut dengan gong baleganjur.Massa berjejer sepanjang kurang lebih 2 kilometer bernyanyi dan berorasi sepanjang jalan, mendesak rencana reklamasi Teluk Benoa segera dihentikan.
Desa pakraman renon, telah menyatakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sejak 8 April 2016, pada tanggal tersebut Desa Pakraman Renon menyatakan menolak reklamasi berdasarkan hasil paruman (rapat) desa pakraman. “penolakan reklamasi teluk benoa oleh desa pakraman renon berdasarkan hasil paruman desa pada tanggal 8 april 2016”kata Made Sutama.
Pegerakan menolak rencana reklamasi Teluk Benoa adalah pergerakan yang dilakukan oleh Sekaa Teruna se-Desa Pakraman Renon dan di backup masyarakat Desa Pakraman Renon. Deklarasi Desa Pakraman Renon merupakan kebulatan tekad masyarakat Desa Pakraman Renon untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. “penolakannya oleh Desa Pakraman Renon sampai dengan rencana reklamasi Teluk Benoa dihentikan dan Perpres 51 Tahun 2014 di batalkan” ujar Bendesa Pakraman Renon, I Made Sutama.
Selain orasi dari Bendesa Pakraman Renon, orasi juga disampaikan oleh Bendesa yang tergabung di dalam pasubayan Desa Pakraman. Ida bagus Ketut Purba Negara, Bendesa Pakraman Buduk di dalam orasinya menyampaikan gedung-gedung yang ditempati oleh pejabat itu adalah gedung milik rakyat dan keberadaan para pejabat disana atas kehendak rakyatnya. Menurutnya jika para pejabat itu tidak lagi mendengarkan suara rakyat yang menolak reklamasi Teluk Benoa maka rakyat Bali berhak untuk mengambil kembali gedung tersebut. “kalo mereka tidak penolakan reklamasi teluk benoa oleh rakyat bali, kita berhap mencbut mandate yang kita berikan kepada mereka dan mengambil alih gedung-gedung tersebut” ujarnya.
Wayan Gendo Suardana Koordinator ForBALI menyampaikan gerakan tolak reklamasi teluk benoa semakin mendapatkan tempat di hati rakyat karena tujuan dari gerakan tolak reklamasi teluk benoa jelas yaitu untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan mengembalikan teluk benoa sebagai kawasan konservasi. Justru, menurutnya pihak yang pro di desa adatnya telah menolak reklamasi teluk benoa. “ini adalah fakta, mereka yang dianggap sebagai ahli gagal meyakinkan desanya dan kini desa-desa pakraman dimana mereka tinggal menolak rencana reklamasi teluk benoa” ungkap Gendo.
Di dalam orasinya, Gendo Sardana juga menyangkal tudingan bahwa aksi hari minggu tidak tepat karena seharusnya berdasarkan tudingan yang diarahkan kepada gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa aksi dilakukan di hari kerja agar di dengar oleh pejabat berwenang sehingga bisa ditindaklanjut. Gendo membantah tudingan tersebut, menurutnya di jaman serba modern dan banyak media yang memberitakan aksi justru seharusnya memberikan kemudahan bagi pejabat untuk mendengarkan aspirasi rakyatnya. Gendo juga menyampaikan sebelum aksi-aksi yang diadakan pada hari minggu aksi tolak reklamasi Teluk Benoa juga dilakukan di hari-hari kerja, tapi juga tidak mendapatkan respon dari pemerintah. “kalau Gubernur Bali bsai mendengar aspirasi rakyat Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa, harusnya sudah dari dulu dia sudah bersurat ke presiden untuk meminta pencabutan perpres 51 tahun 2014, karena sejak tiga tahun lalu aksi penolakan reklamasi teluk benoa juga dilakukan pada hari kerja. Fakta menunjukkan bahwa Gubernur Bali memang tidak mendengar aspirasi rakyat Bali” papar Gendo.
Aksi deklarasi penolakan reklamasi Teluk Benoa oleh Desa Pakraman Renon ditutup dengan penandatangannan Deklarasi Renon oleh Bendesa Pakraman Renon, perwakilan Pasubayan Desa Pakraman Tolak Reklamasi Teluk Benoa dan Koordinator ForBALI. Usai penandatanganan, massa kembali ke Parkir Timur Lapangan Renon dan membubarkan diri. (ForBali)



Rakyat Bali Kibarkan Ribuan Bendera Tolak Reklamasi


Gerakan penolakan rencana Reklamasi Teluk Benoa terus disuarakan. Kali ini, Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa melakukan Aksi Pemasangan Bendera Bali Tolak Reklamasi secara Serentak pada Sabtu, 28 Mei 2016. Pemasangan bendera BTR (Bali Tolak Reklamasi) dilakukan di 15 desa adat dimulai pukul 15.00.

DESA adat yang melakukan pemasangan bendera penolakan reklamasi Teluk Benoa antara lain Kuta, Legian, Seminyak, Kepaon, Kesiman, Sidakarya, Sanur, Pedungan, Denpasar, Renon, Sukawati, Ketewel, Cucukan, Medahan, Pasedahan. Total bendera yang terpasang di 16 titik yang tersebar di kabupaten Badung, Gianyar, Karangasem, dan Kota Denpasar berjumlah lebih dari 3000 bendera.
Dimulai pukul 15.00 Desa Pakraman yang tergabung di dalam Pasubayan Desa Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa bergerak serentak mengibarkan bendera simbol penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.
Di kabupaten Karangasem, tepatnya di Desa Pakraman Pasedahan, Bendesa Pakraman Pasedahan I Wayan Swenten memimpin langsung bersama pengurus Desa Pakraman dan Sekaa Teruna-Teruni (STT) mengibarkan ratusan bendera simbol penolakan mereka terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa di pusat desa mereka sepanjang Jalan I Gusti Ngurah Tanganan.
“Ini merupakan salah satu bukti autentik semakin tegasnya Desa Pakraman Pasedahan menolak reklamasi Teluk Benoa, Dan tetap konsisten sesuai dengan pernyataan kami diawal hingga Presiden Jokowi membatalkan Perpres 51 tahun 2014”  ungkap I Wayan Swenten.
Di kabupaten Gianyar, Desa Pakraman Lebih, Ketewel, Sukawati, Medahan dan Cucukan serentak mengibarkan bendera penolakan reklamasi teluk benoa di wilayah mereka. Sebagaimana yang diungkapkan Kadek Tila, Koordinator Sukawati Tolak Reklamasi,Pemasangan atribut ini, bertujuan untuk terus menggerakan semangat dan meyakinkan masyarakat bahwa gerakan ini tidak hanya cukup saat deklarasi semata.
“Pengibaran bendera tolak reklamasi merupakan tanda atau sinyal keras bagi pemerintah untuk bersikap tegas untuk segera menghentikan rencana reklamasi teluk benoa, desa adat pakraman khususnya desa adat sukawati telah menolak reklamasi tersebut dan pemerintah harus membatalkan perpres 51 tahun 2014 dengan segera” desak Kadek Tila. Kadek Tila menambahkan gerakan ini bukanlah segelintir orang yang mengatas namakan desa adat, gerakan ini telah menjadi kesepakatan bersama dan desa adat pekraman sukawati tegas menolak reklamasi.
Di Kota Denpasar, pengibaran bendera dilakukan di desa-desa pakraman yang juga tergabung di dalam pasubayan diantaranya Kepaon, Kesiman, Sidakarya, Sanur, Pedungan, Denpasar, Renon dan juga di komunitas pemuda di Sumerta.
Di Desa Pakraman Denpasar, Ngurah Gede Dharma Yuda selaku Penyarikan 2 prajuru Desa Pakraman Denpasar mengungkapkan, "kami dari Desa Pakraman Denpasar melakukan pemasangan bendera serentak, hal ini merupakan simbul perjuangan rakyat Bali dalam hal ini desa Pakraman Denpasar yang tidak akan ada habis-habisnya, sekali dikibarkan pantang untuk diturunkan."
Sementara itu, di desa pakraman Kepaon, Kota Denpasar menurut Kadek Bobby Susila Desa Adat Kepaon salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Teluk Benoa sangat menyadari dampak yang akan ditimbulkan dari reklamasi Teluk Benoa. Berkaca dari reklamasi pulau serangan seluas 400ha tahun dan pengerjaan proyek JDP ( jembatan diatas perairan ) Desa Kepaon disambangi air pasang tengah malam bahkan menggenangi area pura. Maka dari itu berdasarkan hasil paruman sabha Desa Kepaon menutuskan menolak reklamasi Teluk Benoa. “Bagi kami rencana reklamasi teluk benoa adalah proyek tipu tipu penguasa dan pengusaha karena rakyat tak pernah dilibatkan. Pengibaran bendera ini adalah penegasan sikap kami, bagi kami di desa kepaon menolak reklamasi adalah harga mati” tegas Bobby Susila.
Kabupaten Badung, Kabupaten yang berhadapan langsung dengan Teluk Benoa, pengibaran bendera serentak juga dilakukan di Kuta, Legian dan Seminyak. Di Desa Pakraman Kuta, Pengibaran bendera tolak reklamasi di Desa Pakraman Kuta dilakukan Forum Kuta Perjuangan dan Yowana Desa Pakraman Kuta yang di ikuti oleh pemuda dari masing-masing 13 Sekaa Truna Truni di Desa Pakraman Kuta. Dikoordinir ketua Yowana Desa Pakraman Kuta, ratusan bendera berkibar di sepanjang sepanjang jalan Raya Kuta, jalan Bakung Sari, jalan Buni Sari, jalan Legian, jalan Tegal Wangi.
Ketua Yowana Desa Pakraman Kuta, tujuan pendirian bendera ini agar lebih memantapkan bahwa Desa Adat Kuta menolak reklamasi Teluk Benoa. Sebagai kawasan pariwisata, Desa Pakraman Kuta menurutnya juga sering kali dipakai tempat diselenggarakannya acara yang mendatangkan pejabat pusat. “Pengibaran bendera ini juga di tujukan kepada para pejabat utamanya pejabat pusat untuk melihat bahwa Desa Pakraman Kuta sebagai salah satu bagian dari Pasubayan Desa Pakraman Bali Tolak reklamasi Teluk Benoa yang tegas menolak reklamas Teluk Benoa” ungkap Gusman Saputra, Ketua Yowana Desa Pakraman Kuta
Ditanya soal penggunaan logo ForBALI, Koordinator Pasubayan Desa Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjelaskan bahwa penggunaan simbol tersebut sudah sesua dengan hasil rapat Pasubayan Desa Pakraman. “ForBALI itu adalah wadah aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa dari krama Bali yang notabene adalah hampir seluruhnya krama (warga) dari desa pakraman yang tergabung di dalam pasubayan. Keberadaan ForBALI adalah bagian tak terpisahkan dalam perjuangan pasubayan tolak reklamas teluk benoa. ForBALI berada di bawah desa pakraman” ujar I Wayan Swarsa yang juga Bendesa Pakraman Kuta.
Sementara tu, Koordinator ForBALI menjelaskan, perjuangan menolak reklamas teluk benoa tidak akan berhenti dan tidak akan kenal lelah sampai reklamasi teluk benoa dihentikan dan perpres 51 tahun 2014 dibatalakan. Pengibaran bendera secara serentak ini menurutnya adalah bentuk dari perjuangan yang tidak pernah henti tersebut. “Pengibaran bendera secara serentak sebagai simbol perjuangan rakyat Bali yg tiada kenal henti” papar I Wayan Gendo Suardana.
Aksi pengibaran bendera tolak reklamasi ini ini dilakukan untuk mempertegas sikap Desa Pakraman dalam menolak reklamasi Teluk Benoa, dan untuk memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap reklamasi Teluk Benoa ini semakin membesar. Dan sampai saat berita ini dibuat, pengibaran bendera di beberapa titik masih terus berlangsung.
Pengibaran bendera tolak reklamasi Teluk Benoa ini akan kembali dilakukan, terutama oleh desa adat dalam Pasubayan Desa Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa yang belum melakukan pengibaran Bendera. (ForBali)



Sabtu, 09 April 2016

Tolak Reklamasi Teluk Benoa di Jakarta dan Kota Lain


PERLAWANAN masyarakat menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali, kini kian menggema ke seluruh pelosok negeri ini. Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi, yang menyangga berbagai keragaman hayati, sumber penghidupan bagi masyarakat, serta kawasan suci bagi masyarakat Hindu di Bali. Mereklamasi kawasan Teluk Benoa berarti juga menimbun perairan yang dihidupi berbagai spesies yang merawat keanekaragaman hayati, juga menjarah hak sipil para masyarakat setempat untuk memiliki lingkungan hidup yang sehat dan situs peribadahan.
Aksi solidaritas yang dilakukan di Jakarta dan juga di beberapa daerah di Indonesia merupakan protes terhadap bagaimana pemerintah mengabaikan fakta-fakta ekologis, sosial, dan religi Teluk Benoa dan relasinya dengan masyarakat Bali.
“Pesan dari aksi solidaritas ini tegas dan jelas. Kami menyerukan dicabutnya Perpres No. 51 Tahun 2014! Aksi solidaritas ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga dilakukan di Bandung, Palangkaraya, Belitong, Makassar, di hari yang sama. Menyusul Bangka dan Jogjakarta di hari yang berbeda”, ujar John Tirayoh dari ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa) simpul Jakarta. “Aksi solidaritas ini merupakan dukungan terhadap aksi-aksi yang telah dilaksanakan di Bali yang dipimpin oleh ketua-ketua adat. Aksi solidaritas ini bermaksud untuk menggemakan suara masyarakat di Bali,” lanjutnya.
ForBALI menggugat keberadaan Perpres tersebut karena melanggar semangat konstitusi Republik Indonesia. Dua hal khususnya yang kami soroti adalah perlindungan lingkungan hidup dan juga perlindungan terhadap masyarakat adat. Upaya reklamasi Teluk Benoa telah melalaikan dua hal yang saling terkait ini. Peraturan Presiden No. 51 Tahun 2014 ini dilihat seperti telah memberikan jebakan betmen bagi Pemerintahan Joko Widodo.
“Peraturan Presiden ini ditandatangani tidak lama sebelum Mantan Presiden SBY menyelesaikan masa jabatannya. Peraturan Presiden ini adalah sebuah kebijakan pembangunan warisan dari Pemerintahan SBY. Produk kebijakan turunan dari MP3EI yang mendapat penolakan keras dari masyarakat Bali saat ini menjadi beban rezim Presiden Joko Widodo. Proses pembuatan Perpres dilakukan kilat, giliran mendapat penolakan, Presiden Joko Widodo yang harus menghadapinya”, ujar I Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI.
Ketika ditanya tentang proses pembuatan Peraturan Presiden yang mengubah status kawasan Teluk Benoa dari konservasi ke kawasan budidaya, pria yang akrab disapa Gendo ini menjelaskan, “Dibawah Pemerintahan SBY, Perpres tersebut diubah hanya dalam waktu 5 (lima) bulan setelah Gubernur Bali Mangku Pastika mengajukan permohonan mengenai perubahan Perpres No 45/2011 tanggal 23 Desember 2013. Lalu, 2 (dua) bulan setelahnya, PT TWBI mendapatkan ijin lokasi reklamasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hanya dalam waktu yang singkat.”
Melalui aksi solidaritas di berbagai kota ini, ForBALI juga mendorong agar Presiden Joko Widodo segera menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa serta mencabut Perpres No 51/2014 agar lepas dari jebakan rezim sebelumnya.
Gerakan melindungi Teluk Benoa dari ancaman reklamasi juga menjadi mercusuar bagi inisiatif lainnya untuk melindungi pesisir Indonesia. Diperlukan gerakan masyarakat secara total dan tidak berbatas untuk menjaga perairan Indonesia dari berbagai upaya privatisasi, penghancuran maupun pembangunan yang tidak berkelanjutan. Menyelamatkan Teluk Benoa berarti menjaga pesisir Indonesia dan secara global, menjaga alam untuk seluruh umat manusia. (ForBali)



Atribut Tolak Reklamasi Teluk Benoa Terus Meluas

MENUNGGU waktu digelarnya persembahyangan bersama oleh Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa pada hari ini (Minggu, 10/4) di Pura Sakenan, Pulau Serangan, Denpasar untuk memohon rest uterus berjuang menolak reklamasi berkedok revitalisasi teluk benoa, rakyat bali di berbagai penjuru Bali antusias memasang baliho dan atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Di Nusa Dua, Bali
Sekaa Teruna Teruni (STT) Banjar Penyarikan dan Bocah-Bocah Creative (BBC), Bualu, Nusa Dua siang tadi mendirkan baliho penolakan reklamasi teluk benoa di wilayah mereka. Hadir juga di dalam pemasangan baliho tersbut Ketua BBC  I wayan Santika bersama kepala lingkungan penyarikan I Nyoman Sueta, SE. dan juga Jro Mangku Angin.
I Nyoman Sueta, Kepala Lingkungan Penyarikan menjelaskan, Pemasangan Baliho tersebut adalah sebagai bentuk permohonan restu kepada Jro Gede Mecaling agar diberikan restu menuju persembahyangan bersama Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. “sesuai dengan simbol yang yang kami pasang di baliho adalah JRO gede Mecaling yang berstana di Pura Dalem Nusa, agar Ida Betara nuntun perjalanan kami dan kami diberikan restu acara persmbhyang sebentar lagi. Kami menganggap beliau lah yang menuntun kita dlm perjalanan dan perjuangan menolak reklamasi teluk benoa ini” papar nyoman sueta.
Sementara itu, ketua BBC menjelaskan pemasangan baliho selain sebagi bentuk permohona restu kepada ida betara yang berstana di Pura Dalem Nusa, pendirian baliho tersebut untuk meminta kepada Presiden Joko Widodo agar segera mencabut perpres 51/2014. “Kepada Bapak Presiden RI Joko Widodo agar mencabut Perpres 51 Tahun 2014. Pencabutan perpres 51 tahun 2014 ini sangatlah penting selain untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa serta pencabutan Perpres No 51/2014 agar melepaskan Presiden dari jebakan rezim sebelumnya” Papar Wayan Santika.


Di Legian, Kuta, Bali
Di sepanjang jalan legian, Kuta, masyarakat legian yang dikoordinir oleh Solidaritas Legian Peduli (SOLID) melakukan pemasangan panji-panji penolakan reklamasi Teluk Benoa. di hubungi langsung, Koordintor SOLID Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjelaskan pemasangan panji-panji tolak reklamasi teluk benoa tersebut untuk menyampaikan pada khalayak luas dan mendapatkan reaksi dari wisatawan yang berada di wilayah legian untuk menanyakan langsung kepada masyarakat legian tentang alasan penolakan reklamasi teluk benoa. sebagai daerah pariwisata menurutnya pemasang baliho tersebut akan menadapatkan perhatian lebih. “Mengingat kita daerah kawasan wisata, kita yakin akan mendapat fokus perhatian lebih. Hal ini jg kita buktikan secara langsung mendapat reaksi wisatawan dgn dgn bertanya kpd masy dan mendapatkan review positif ikut mendukung pergerakan ini krn yg mrk inginkan adl wisata budaya dan kealamian Bali utk dtg kesini” papar Koordintor SOLID AA. Putu Oka Hartawan.

Ia juga menjelaskan sebagai daerah yang berada di kawasan pariwisata, legian tidak anti dengan invetasi akan tetapi menurrutnya investasi yang merusak seperti rencana reklamasi teluk benoa harus dibatalkan karena reklamasi teluk benoa justru akan menghacurkan pariwisata bali yang ada saat ini. “Panji-panji kita sengaja dipasang dijalan utama Jl Legian-Kuta sebagai bentuk protes atas adanya rencana reklamasi Teluk Benoa dan meminta agar Perpres 51/2014 segera dicabut” ujaranya. Pencabutan perpres 51/2014 dengan mengembalikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi akan menghindarkan bali dari kerusakan yang lebih parah. Untuk terus membela ibu pertiwi, koordinator SOLID juga menekankan jika semua panji-panji yang dipasang adalah swadaya dari masyarakat Legian, dengan sukarela membelinya atas dasar hati nurani. (ForBali)




Minggu, 27 Maret 2016

Pastika, Damantra, dan Wedakarna Satu Podium Bicara Reklamasi

PODIUM Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Renon, Minggu (27/3) agak berbeda. Sebab, ada dua wakil Bali di pusat hadir dan menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Mereka adalah Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra dan DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarma.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang juga hadir pada acara tersebut pun merasa bangga karena wadah penyaluran aspirasi yang digagasnya mendapat perhatian dua Senator RI asal Bali tersebut. “Ini menandakan, podium yang saya gagas makin berbobot,” ujar Pastika seraya berharap agar ke depannya lebih banyak lagi wakil Bali di Senayan bisa bicara di PB3AS.
Lebih jauh Pastika menuturkan bahwa gagasan untuk melaksanakan PB3AS terinspirasi oleh kegiatan serupa yang dilihatnya di London. Selain sebagai media penyaluran berbagai aspirasi, melalui kegiatan ini Pastika ingin mendorong orang Bali agar lebih berani bicara. “Di podium ini setiap orang boleh bicara mengenai apa saja tanpa dibatasi waktu, tentunya dengan santun dan beretika,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Pastika juga mengundang Dhamantra, Arya Wedakarna dan senator lainnya untuk hadir di Simakrama rutin digelar pada Sabtu di minggu terakhir setiap bulannya.
Sementara itu, dalam orasinya Nyoman Dhamantra mengatakan bahwa kehadirannya di PB3AS bertujuan untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana Revitalisasi Teluk Benoa yang diatur dalam Perpres Nomor 51 Tahun 2014. Politikus dari PDIP Bali ini menilai, gerakan penolakan revitalisasi Teluk Benoa belakangan makin masif dan serius. Dia berharap hal ini menjadi perhatian Gubernur Mangku Pastika. “Kami berharap Bapak Gubernur ikut bersama-sama memohon kepada Presiden agar Perpres Nomor 51 Tahun 2014 dicabut,” pintanya.
Menurut Dhamantra, faktor niskala menjadi alasan utama gerakan penolakan revitalisasi Kawasan Teluk Benoa.


"Kalau dari segi sekala seperti kajian AMDAL memang masih bisa diperdebatkan. Tapi yang menjadi dasar penolakan kami lebih ke faktor niskala," ujar Dhamantra seraya menyebut ada 31 pura di Kawasan Teluk Benoa yang perlu dijaga kesuciannya.
Lebih dari itu, kata Dhamantra, Bhisama PHDI sudah jelas melarang kegiatan pengurugan laut, danau dan campuhan. 
Selain bicara soal revitalisasi, Dhamantra juga meminta Gubernur mengkaji kembali kebijakan investasi di Bali. Karena dia mengamati, pesatnya pertumbuhan investasi tak membawa dampak signifikan bagi Krama Bali.
"Hotel dan vila menjamur, tapi banyak perajin yang saat ini mengalami kesulitan dan hampir bangkrut," ucapnya.
Untuk itu,dia menyarankan agar Gubernur mengatur kembali regulasi investasi agar lebih berpihak pada kepentingan Krama Bali. 
Pendapat senada juga disampaikan Anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Sampai kapan pun, ujar Wedakarna, dia akan berada di barisan terdepan dalam gerakan tolak reklamasi. Meski demikian, dia tetap menghormati aspirasi mereka yang mendukung rencana tersebut.
Ia juga menghimbau agar aspirasi disampaikan sesuai aturan dan beretika. Penolakan juga disampaikan Mangku Wayan Suteja. Dia menolak rencana Revitalisasi Teluk Benoa dengan alasan kawasan Bali Selatan sudah terlalu padat. Selain itu, rencana ini dinilai tak sejalan dengan pembangunan pariwisata berbasis adat dan budaya.
Selain kubu penolak, kelompok pendukung tak kalah sengit dalam mengemukakan pendapat mereka. Komang Gede Subudi, seorang warga Denpasar dengan lantang mengutarakan dukungannya terhadap rencana Revitalisasi Teluk Benoa. Menurutnya, Bali membutuhkan lapangan pekerjaan baru untuk menampung lulusan sarjana yang terus bertambah setiap tahunnya.
Dia juga mengingatkan agar pihak yang pro dan kontra tak mengatasnamakan adat dan agama dalam gerakan mereka. Dukungan juga diutarakan Wayan Suata, Wayan Ranten dan Lanang Sudira. Dalam orasinya, Ranten meluruskan bahwa revitalisasi bertujuan untuk mengembalikan kawasan Teluk Benoa. Dia yang lahir di Teluk Benoa tahu betul kondisi kawasan tersebut yang saat ini sangat memprihatinkan.



“Saat air surut, kita dapat melihat bagaimana kotornya kawasan itu. Banyak sampah, bangkai binatang hingga pembalut wanita. Apa itu yang disebut suci,” ujarnya dengan nada tanya. Kondisi serupa juga dibeber Lanang Sudira yang selama ini aktif dalam gerakan pelestarian mangrove.
Orator lainnya seperti Wayan Sutiawan dari Abian Semal dan Agung Ariawan dari Pedungan lebih memilih sikap netral. Keduanya berpendapat, saat ini keputusan ada di tangan presiden. Jika presiden mencabut Perpres, maka otimatis rencana itu akan batal. Pada bagian lain, Agung Ariawan juga mengkritisi gerakan mengatasnamakan Desa Pakraman yang kemudian difasilitasi kelompok aktifis tertentu.
Menurutnya, penyampaian aspirasi yang mengatasnamakan Desa Pakraman harus sesuai mekanisme. “Ada majelis madya hingga majelis utama, keliru kalau aspirasi desa pakraman dibawa oleh kelompok aktivis. Itu yang perlu diluruskan,” tandasnya.
Menyimak pro dan kontra terkait dengan rencana revitalisasi kawasan Teluk Benoa,
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan dirinya tak berpihak pada kepentingan atau kelompok manapun. “Mereka yang pro maupun yang kontra, semua adalah tanggung jawab saya. Saya tak boleh berpihak dan harus ada di kedua belah pihak,” ujarnya.
Untuk itulah, dia mengundang pihak yang pro maupun yang kontra untuk menyampaikan pendapat di PB3AS. Terkait dengan polemik rencana revitalisasi Teluk Benoa, Pastika akan mempertemukan kedua belah pihak dalam sebuah diskusi. “Mari kita kaji baik buruk dan untung ruginya. Kita bicara dengan pikiran lebih jernih,” pungkasnya. (humas pemprov bali)

 BACA JUGA

-  Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi 


Minggu, 20 Maret 2016

Menyemut, Bukti Tidak Segelintir yang Tolak Reklamasi

AKSI penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa terus bergulir. Minggu (20/3), ribuan orang menyemut di bundaran Ngurah Rai, Tuban, Badung, Bali. Mereka seolah membuktikan bahwa tudingan penolak reklamasi Teluk Benoa hanya segelintir tidak benar.
Ribuan massa datang dari 27 Desa Adat di Bali yang sudah resmi menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional  (TWBI). Ada juga dari kelompok aktivis lingkungan dan lainnya.  

Aksi demo dimulai dari Desa Adat Kelan menuju Bundaran Ngurah Rai dengan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer. Beberapa spanduk yang berisikan kampanye Tolak Reklamasi Teluk Benoa dan batalkan Prepres no 51 thaun 2014 ikut dibawa massa.

“Kami menuntut pencabutan Perpres 51 tahun 2014 dan menolak reklamasi Teluk Benoa,” kata salah satu warga.
“Tolak Reklamasi Teluk Benoa,” teriak sejumlah warga sambil mengacung-acungkan spanduk penolakan.  
Demonstrasi dimulai sekitar pukul 14.00. Mereka kompak menggunakan pakaian adat dengan baju dan udeng putih. Mereka juga membawa ogoh-ogoh bertuliskan tolak reklamasi. 

Semua atribut yang dibawa warga berisi kecaman atas reklamasi Teluk Tanjung Benoa. Aksi mendapat pengawalan ketat polisi dan menjadi perhatian bule. (*)

foto: Dishub Provinsi Bali

BACA JUGA

-  Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad

Sabtu, 19 Maret 2016

Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi

BALI diserang oleh alien berdasi yang datang dari luar angkasa. Tujuan utamanya adalah melakukan reklamasi untuk membangun markas luar angkasa. Bantu Perjuangan Bli Gede dalam melawan serangan alien karena reklamasi akan merugikan Bali. Bantu sebarkan semangat tolak reklamasi!
Begitulah, deskripsi tentang game Bli Gede Tolak Reklamasi yang terakhir diperbaruhi 15 Maret 2016. Game yang sudah di Google Play, ini dikembangkan oleh Bli Gede Studio dengan ukuran 6,5 M.
Pada tampilan pertama tampak seorang pemuda mengenakan udeng dengan kamen khas pakaian adat Bali membawa katepel yang disebut sebagai Bli Gede. Sedangkan di sebelah kanan ada sosok alien berdasi dengan alat berat di belakangnya. Di bagian atas tertulis Bli Gede Tolak Reklamasi.


Pada halaman berikutnya, digambarkan Bli Gede sedang bermain layang-layang di pantai yang indah dengan pepohonan yang hijau. Di sana ada keterangan bahwa; Bli Gede adalah seorang pemuda asal Pulau Bali. Dia sangat mencintai alam Bali khususnya pantai. Dia sangat senang bermain layang-layang di pantai…  
Pada halaman ketiga, Bli Gede digambarkan sangat terkejut dengan kehadiran beberapa alien berdasi yang datang dari luar angkasa secara tiba-tiba. Alien itu turun membawa bom.
Pada halaman keempat, tampak Bli Gede berhasil mencuri bom yang dibawa para alien berdasi. Dia digambarkan melihat kegiatan para alien berdasi dengan alat berat di pantai tempatnya biasa bermain layang-layang. Alat berat itu digambarkan mengeruk tanah untuk menguruk laut.
Di gambar ini juga diisi keterangan tujuan para alien berdasi itu adalah melakukan reklamasi (menguruk laut). “Tujuan alien-alien itu adalah membuat daratan baru  dengan mengubur laut dengan tanah (reklamasi) yang akan digunakan membangun markas,” begitu keterangan yang ada di gambar tersebut.
Halaman berikutnya adalah, aktivitas alat berat menguruk laut diawasi para alien berdasi. Sementara Bli Gede masih melihat sambil mengamankan bom yang dicurinya. Di sana juga dijelaskan melalui tulisan bahwa reklamasi sangat buruk bagi Bali. Mulai dari menyempitnya pantai, abrasi hingga perubahan arus laut serta hilangnya tempat nelayan.


Dan sebelum game dimulai, Bli Gede digambarkan melawan para alien berdasi itu dengan menggunakan ketapel dan bom hasil curiannya.
“Maju terus tambah lagi game tema Bali,” tulis Wiwik Antari mengomentari game ini di Google Play.
Sementara komentar lain lebih banyak memberikan dukungan terhadap game ini serta aksi tolak reklamasi Teluk Benoa. “Bali Tolak Reklamasi, Bali tidak bisa dijual gan semangat,” tulis Ngurah Rama. “Mantap, semangat. Hanya ada satu kata, Lawan!” tulis Gustra Putra. (*)

FOTO: GOOGLE PLAY


DOWNLOAD GAME 

Bli Gede Tolak Reklamasi


BACA JUGA 

-  Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa 

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad








Sabtu, 05 Maret 2016

Sering Dirobek, Sukawati Kembali Pasang Baliho Tolak Reklamasi

MESKI sudah tiga kali dirobek oleh orang tak dikenal, Forum Sukawati Tolak Reklamasi Teluk Benoa tak pantang menyerah. Jumat malam (4/3), forum ini kembali menegaskan sikapnya dengan memasang dua buah baliho di Pantai Purnama, Gianyar.
Dua buah baliho yang berukuran 3 x 4 meter dengan bertuliskan Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres 51/2014 ini juga berisi dengan 14 alasan menolak reklamasi Teluk Benoa. "Baliho ini kami pasang untuk masyarakat umum, sebab pantai tidak hanya milik masyarakat Sukawati saja, tapi juga masyarakat umum, khususnya agama Hindu untuk upacara keagamaan," ujar Kadek Tila selaku Koordinator Forum Sukawati Tolak Reklamasi.
Tila mengajak seluruh masyarakat Bali khususnya untuk lebih menjaga pantai dan laut. "Mari membangun kesadaran karena pantai ini milik bersama dan juga mari kita tolak reklamasi," imbuhnya.

Lembongan Ikut Tolak Reklamasi Teluk Benoa


Lalu darimana dapat dana buat bikin baliho? "Ini dari swadaya masyarakat, kami menjual baju dan hasilnya untuk membuat baliho," jawabnya.
Mereka juga meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan mengembalikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi dengan membatalkan perpres nomor 51 tahun 2014 yang merupakan warisan Presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. (ForBali)


Minggu, 21 Februari 2016

Pemuda Jehem Dirikan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

PARA Pemuda Desa Jehem Bangli melakukan aksi solidaritas menolak reklamasi Teluk Benoa, Minggu siang (21/2). Padahal, Bangli tak memiliki pantai. Pemuda Jehem menggelar solidaritas menolak reklamasi Teluk Benoa dengan mendirikan Baliho. 
Sebelum mendirikan baliho, Pemuda Jehem yang tergabung di dalam Solidaritas Pemuda Jehem Tolak Reklamasi Teluk Benoa berkumpul sekitar pukul 11.00 dan mencari mencari bambu di kebun kemudian mulai merakit bambu untuk pemasangan baliho. Sekitar pukul 13.00 baliho sudah selesai di rakit kemudian dibawa beramai-ramai untuk dipasang di perempatan Desa Jehem.

-  Lembongan Ikut Tolak Reklamasi Teluk Benoa



Menurut humas  dari kegiatan tersebut, Putu Tedy Alfred Mahendra, solidaritas penolakan reklamasi Teluk Benoa ini dilakukan karena mereka sudah melihat ke belakang dan belajar dari sejarah tentang apa yang terjadi dengan keadaan pantai-pantai bagian timur pulau Bali pasca reklamasi pulau serangan. Dampak reklamasi Serangan mengakibatkan terjadinya abrasi di sepanjang pesisir timur pulau Bali.
Menurutnya, sampai saat ini perbaikan-perbaikan masih aktif dilakukan dengan cara mengurug garis pantai dengan batu-batu besar. Hal ini menyebabkan kealamian pantai Bali sudah mulai terancam dan membuat anggaran daerah yang seharusnya bisa untuk kesejahterahan masyarakat justru terpaksa digunakan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan pembangunan bisnis pariwisata.

“Kami yang berada di Bangli menyatakan sikap menolak rencana reklamasi Teluk Benoa sebagai rasa solidaritas persaudaraan terhadap masyarakat pesisir pulau Bali yang akan terdampak langsung dari mega proyek reklamasi yang berkedok revitalisasi. Ini sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian alam Bali demi kelangsungan hidup generasi dimasa depan,” paparnya. (*)

Lembongan Ikut Tolak Reklamasi Teluk Benoa

NUSA PENIDA- Satu persatu wilayah di Bali semakin berani menunjukkan sikap dan kepeduliannya terhadap Teluk Benoa. Kali ini elemen masyarakat Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Klungkung menyatakan diri dengan tegas menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.
Dalam mempertegas aksinya, ratusan pemuda dan puluhan peselancar warga asli Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan ini menggelar aksi damai dengan berjalan kaki sejauh 2 kilo meter dari catus pata Desa Lembongan hingga Jembatan Kuning penghubung Lembongan dan Ceningan sambil memungut sampah pada Minggu pagi (21/2).


-  Suarakan Tolak Reklamasi Saat Valentine

-  TELUK BENOA DILINDUNGI 'BHATARA SESUHUNAN' PURA GAING-GAING: PENYAWANGAN PURA DALEM KARANG TENGAH

-  Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Samas Kunjungi Pura Pesisir

Komang Muliawan, 29 yang menjadi humas di dalam kegiatan tersebut, di sela-sela aksi menjelaskan aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas serta kepedulian terhadap Teluk Benoa yang mau di reklamasi seluas 700 hektar. "Meski kami jauh dari Teluk Benoa, tetapi kami meyakini bahwa reklamasi tersebut akan berdampak pada pulau kami," ujarnya.
Lebih lanjut, dalam penjelasanya menjelaskan, sepanjang pesisir barat pulau Ceningan serta selatan dan utara pulau Lembongan sudah mengalami pengkikisan pesisir yang cukup parah akibat reklamasi di Serangan. "Kami ini hidup di pulau yang kecil, pulau kami berhadapan dengan Samudra Hindia, jika reklamasi dilakukan, berdasarkan riset para ahli akan berdampak pada pulau kami juga," ujarnya di sela-sela aksi.
Nusa Penida yang terdiri dari 3 pulau, yakni Nusa Gede (Penida), Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan ini juga dikatakan kehidupannya seratus persen dari laut dan wisata bahari. Untuk itu pula, Muliawan mengajak untuk sama-sama menjaga kehidupan biota laut dan terumbu karang. "Laut mestinya kita jaga, jangan di rusak dengan melakukan reklamasi seperti yang akan dilakukan di Teluk Benoa," harapnya.
Meski begitu, Muliawan mengatakan hal ini bukan sebagai wujud anti terhadap investor. "Bukan, kami bukan anti investor, tetapi kami anti kepada investor yang memaksakan kehendak dan namun juga mengabaikan lingkungan," tegasnya.
Sementara itu, Gede Lama, 35, yang juga salah satu peserta aksi meminta agar pembangunan tidak hanya dilakukan di Bali Selatan saja, namun juga harus diperhatikan di wilayah lainnya. "Banyak daerah di Bali yang perlu dikembangkan, Bali mesti dilakukan pemerataan pembangunan juga, agar tidak terjadi ketimpangan," harapnya.

Selain aksi bersih - bersih dan pemasangan baliho penolakan diberbagai titik di Lembongan dan Ceningan, dalam aksi damai ini, para peselancar pun ikut unjuk gigi dengan melakukan aksi paddle dengan board selancar diikuti jukung kecil dengan membawa sepanduk besar ketengah laut. (ForBali)

Kamis, 18 Februari 2016

Suarakan Tolak Reklamasi Saat Valentine

STT Banjar Lebah Tolak Reklamasi Teluk Benoa.
BERTEPATAN dengan hari Valentine yang jatuh pada 14 Februari, di Kota Denpasar, dukungan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa malah semakin gencar dilakukan oleh kaum muda Bali.
Seolah tak pernah lelah untuk terus berjuang, Sekaa Teruna Teruni Yowana Jaya, Banjar Lebah, Desa Adat Sumerta, Denpasar kembali turun ke jalan untuk mempertegas sikapnya dalam menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

-  Lembongan Ikut Tolak Reklamasi Teluk Benoa


Puluhan pemuda ini melakukan lonch march dengan berjalan kaki dari Bale Banjar Lebah dan kemudian memasang dua baliho di pertigaan Jalan Hayam Huruk arah ke Jalan Kecubung dan perempatan Jalan WR Supratman, arah Jalan Kecubung, Denpasar.
Dua buah Baliho berukuran 3 X 4 meter ini gagah berdiri di salah satu jalan utama kota Denpasar tersebut. Dalam baliho tersebut, tegas tertulis "Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres 51 Tahun 2014" dipasang dengan aksi arak-arakan serta iring-iringan Bale Ganjur. "Ini sudah ke 8 kali nya kami memasang Baliho, sebelumnya sudah 4 baliho dirusak oleh orang yang tidak dikenal," ungkap Nyoman Gegel Juniartha sebagai salah satu peserta aksi.
Total saat ini, sudah sekitar 10 Baliho penolakan pernah dipasang oleh Pemuda Banjar lebah ini. “Kami sengaja memilih hari Valentine untuk memasang Baliho, karena bentuk kasih sayang tidak hanya dengan kekasih, tetapi juga pada bumi dan alam,” tuturnya.
Rencana reklamasi di Teluk Benoa seluas 700 ha yang digembar-gemborkan akan menyerap banyak tenaga kerja terutama anak muda Bali ini justru di tolak oleh anak muda itu sendiri.
Hal ini pun disesali oleh Koordinator Pemuda Banjar Lebah Tolak Reklamasi,  I Gusti Ngurah Agung Sandhi Sugiantara  saat ditemui di sela aksi berlangsung. “Saya gagal paham dengan sikap pemerintah yang justru mengabaikan suara rakyatnya. Jelas ini ditolak oleh sebagian besar masyarakat Bali, kenapa mesti dipaksakan?," ujarnya.
Sandhi berharap kepada penguasa di Pulau Dewata ini untuk memiliki keberpihakan kepada Rakyatnya. “Suara rakyat Bali jelas menolak, buktinya, Desa Adat pesisir yang ada di Teluk Benoa pun sudah menyatakan sikap penolakannya secara resmi, mestinya pemerintah menghargai nya,” tuturnya.
Para generasi muda ini tetap meminta kepada Presiden RI  Joko Widodo untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan Batalkan Perpres 51 Tahun 2014.
Aksi pemuda Banjar Lebah yang dimulai pada pukul 17.00 hingga pukul 18.00 ini pun berjalan dengan lancar dan tertib. Begitu pun massa aksi, seusai aksi, mereka melanjutkan membuat ogoh-ogoh untuk ditampilkan pada pengerupukan sebelum hari raya Nyepi nanti. (ForBali)