Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2016

Gubernur Bali Target 1 Shortcut Denpasar – Singaraja Selesai 2017





BALI IN DEPTH - Satu dari sepuluh shortcut jalur Denpasar – Singaraja diharapkan bisa terealisasi tahun 2017 mendatang. Hal itu disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, saat menerima Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional VIII Sayeful Anwar di Ruang Rapat Gubernur, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa(2/8).
“Minimal 1 shortcut itu selesai lah. Ini sudah sangat lama kita wacanakan namun sampai sekarang belum ada realisasi, yang lainnya menyusul bersamaan dengan upaya – upaya penyelesaian masalah lainnya seperti pembebasan lahan,” jelas Pastika.
Menurut Pastika, pembangunan jalur shortcut tersebut sangat memberikan manfaat dalam upaya memperpendek jarak tempuh dari Denpasar ke Singaraja. Selain itu shortcut tersebut diharapkan mampu untuk mengurangi kemacetan di jalur tersebut mengingat jika saat liburan jalur tersebut sering terjadi kemacetan. Lebih lanjut disampaikan Pastika, jika ke depannya terjadi permasalahan agar segera dikoordinasikan dengan instansi terkait seperti masalah pembebasan lahan.
Sementara itu Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional VIII Sayeful Anwar menyatakan sepanjang jalur Denpasar – Singaraja tersebut nantinya akan ada 10 shortcut. Namun dari 10 shortcut tersebut hanya 4 shorcut yang memungkinkan untuk segera dibangun sisanya masih memiliki permasalahan terkait dengan kelandaian yang melebihi 10 persen. Selain itu permasalahan pembebasan lahan juga masih belum terselesaikan sampai saat ini. Sehingga pihaknya mengharapkan masukan - masukan dari instansi terkait sehingga dapat segera memperoleh solusi. (bid)



Kamis, 17 Maret 2016

Wagub Tolak Jembatan Jawa-Bali

USULAN Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ingin membangun jembatan yang menghubungkan Jawa-Bali, mendapat perlawanan dari Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta. Ketua DPD Golkar Bali ini secara tegas menolak usulan yang disampaikan pascatenggelamnya Kapal Rafelia II di Selat Bali beberapa waktu lalu.
Menurut Sudikerta, pembangunan jembatan Jawa-Bali itu memang penting, namun jauh lebih penting  adalah menjaga kultur masyarakat Bali sendiri. "Momentum usulan jembatan itu kurang tepat di tengah upaya masyarakat Bali berkomitmen menjaga budayanya yang adiluhung yang kental dengan adat-istiadat dan nilai kesakralan yang tinggi," katanya, Kamis (17/3) kemarin.
Pihaknya mengatakan usulan pembangunan jembatan itu hendaknya dilakukan kajian dari berbagai aspek, terutama dari sisi budaya masyarakat Bali sendiri. "Tidak bisa hanya melihat dari satu aspek saja, tapi harus komprehensif sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat Bali ke depan," sambungnya.
Sudikerta menegaskan tatanan kehidupan masyarakat Bali saat ini telah berjalan dengan baik dalam suasana harmoni, kedamaian, dan kebersamaan antarsesama.

"Jika benar seperti itu usulannya, saya sangat tidak sependapat. Ajeg Bali harus dipertahankan dengan prinsip-prinsip kearifan lokal. Pembangunan jembatan Jawa-Bali akan sangat berpengaruh pada tatanan sosial budaya masyarakat. Akan ada pergeseran-pergeseran nilai di Bali. Cepat atau lambat, pembangunan jembatan itu akan menyebabkan adat dan budaya Bali mengalami degradasi,"  katanya.


Pihaknya tak menampik secara ekonomi Jawa-Bali akan diuntungkan. Namun dampak degradasi budaya dan moral harus diantisipasi. "Adat, budaya, dan tatanan menyamabraya harus dipertahankan. Tidak boleh egois memandang dari sisi ekonomi semata," tegas Sudikerta.
Jika antrean panjang kendaraan di pelabuhan Ketapang-Gilimanuk yang dijadikan alasan membangun jembatan Jawa-Bali, Sudikerta menawarkan solusi agar fasilitas di pelabuhan itu yang mesti diperbaiki, baik menyangkut penataan manajemen transportasi laut maupun penambahan dermaga. 
Pihaknya mengaku akan tetap mempertahankan Gilimanuk sebagai pintu gerbang Bali di bagian barat melalui laut. 

"Dengan tegas saya tolak. Tatanan yang seperti sekarang ini sudah cukup bagus," kata Sudikerta.


Sebagaimana diketahui, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengusulkan pembangunan jembatan Selat Bali yang menghubungkan Pulau Jawa bagian timur dengan Pulau Bali bagian barat.
Keberadaan jembatan tersebut sangat penting guna kelancaran arus barang dan orang, agar tidak terjebak antrean panjang di pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Antrean panjang itu semakin rancu saat long weekend, hari besar nasional, dan atau pada saat terjadinya cuaca buruk.
"Jika saja boleh saya usulkan, semestinya di Selat Bali ini dibangun jembatan Jawa-Bali sebagaimana Surabaya-Madura atau Suramadu. Ini disebabkan keduanya provinsi tersebut saling membutuhkan. Apalagi kedua provinsi tersebut memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi," ujar Bupati Anas kepada wartawan usai rapat koordinasi di Pelabuhan ASDP Ketapang, Senin (14/3). (*)


Kamis, 18 Februari 2016

OJK Beri Pukulan Besar untuk Industri Batubara

INDUSTRI pertambangan batubara di Indonesia telah mendapatkan pukulan besar dengan pengumuman oleh regulator jasa keuangan negara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bahwa bank harus menghentikan pinjaman untuk proyek-proyek pertambangan di Kalimantan Timur.


Kalimantan Timur, mengandung 28 persen dari total cadangan batu bara Indonesia. Areal seluas negara Swiss telah dialokasikan untuk pertambangan di seluruh provinsi, dengan kerusakan masif hutan, pencemaran persediaan air dan perpindahan masyarakat setempat.


OJK memiliki kekuatan untuk mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia dengan proyeksi promosi stabilitas keuangan. Peraturan tersebut dibuat karena harga batu bara yang terus turun, sehingga dinilai berinvestasi dalam proyek-proyek batubara terlalu berisiko.


Ini adalah peraturan perbankan pertama yang melarang pembiayaan untuk pertambangan batubara berdasarkan eksposur kredit industri.


Beberapa bank di Indonesia sudah diketahui terkena kredit macet di pertambangan batu bara, baik secara langsung melalui operasi pertambangan, atau tidak langsung melalui kredit konstruksi untuk proyek-proyek pertambangan. Lembaga kredit Fitch menulis tahun lalu: "Kombinasi berkelanjutan harga lemah batubara dan over-supply akan terus menantang profil kredit dari sektor pertambangan, dengan penambang kecil paling berisiko."


“Ini menjadi pukulan penuh terhadap ambisi industri batu bara Indonesia, dan memberikan dampak hidup kepada ribuan orang di Kalimantan Timur yang hidupnya telah hancur oleh industri pertambangan batu bara,” kata Arif Fiyanto, juru kampanye senior untuk Greenpeace Indonesia.
"Tidak ada prospek pemulihan harga batubara. Bagi Indonesia ini adalah perjudian masa depan pada batubara. Pengumuman OJK membuatnya menjadi semakin jelas, pinjaman untuk pertambangan menjadi sangat berisiko bagi lembaga keuangan, dan semua bank harus menghentikan dana operasi untuk batubara di Indonesia. "


IMF, dalam sebuah catatan baru pada sektor perbankan Indonesia, mengatakan kewajiban sektor batubara naik sekitar 30% sejak tahun 2008, sedangkan pendapatan operasi tumbuh hanya 10% dan keuntungan menurun. Indonesia adalah eksportir batubara terbesar di dunia, dan penambang terbesar Bumi Resources telah berjuang dengan kebangkrutan selama lebih dari satu tahun sekarang.
Pemerintah Indonesia telah memotong harga acuan batubara thermal (HBA). Harga batubara saat ini  US $ 53,20 per metrik ton pada bulan Januari (rekor terendah baru), yang turun dari US $ 109,29 pada Januari 2012.


Sebagian besar paparan kredit macet di Kalimantan Timur adalah penambang skala menengah dan kecil. Mereka lebih cenderung dibiayai oleh bank-bank Indonesia, karena perusahaan batubara yang lebih besar memiliki akses ke pasar modal dan bank internasional. (greenpace Indonesia)




Sabtu, 13 Februari 2016

Sudikerta Buka “Rahasia” Inflasi Bali di Atas Rata-rata Nasional



Wabup Bali Ketut Sudikerta
KEBERHASILAN Provinsi Bali dalam menekan angka inflasi hingga  berada di kisaran 2,7 persen atau di bawah angka rata-rata nasional yang berada di angka 3,5 persen mencuri perhatian Gubernur Bank Indonesia Agus Marto Wardoyo. Sudikerta yang merupakan ketua Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali memaparkan sejumlah “rahasia” yang dilakukan untuk mencapai prestasi ini saat menjadi pembicara di acara  Rapat Koordinasi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia  yang digelar di Hotel Aston Kupang, Jumat (12/2). Ia menjelaskan TPID PRovinsi Bali telah mengambil langkah dengan membentuk TPID di kabupaten dan kota se-Bali agar dapat mengoptimalkan fungsi koordinasi secara berjenjang. 
Lebih lanjut Sudikerta memaparkan berhasilnya Bali dalam menekan angka inflasi yang juga dibarengi dengan  pertumbuhan ekonomi Bali di tahun 2015 sebesar 6,04 persen tidak terlepas dari keberadaan program Bali Mandara yang sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh massyarakat. Ia mencontohkan sejumlah program yang secara langsung bersentuhan dan menggerakan ekonomi kerakyatan masyarakat Bali  seperti penjaminan  kredit melalui PT Jamkrida Bali Mandara (JBM) bagi UMKM yang terkendala permodalan serta program Gerakan Pembangunan Desa Terpadu (Gerbangsadu/GSM) Mandara yang menjadi motor penggerak dari perekonomian masyarakat di desa yang memiliki tingkat kemiskinan di atas 25 persen. Selain dua program tersebut, Sudikerta menambahkan,  program Bali Mandara lainnya juga secara tidak langsung turut membantu percepatan kesejahteraan masyarakat seperti program kesehatam JKBM, beasiswa bagi siswa miskin, bedah rumah, dan Simantri.  
“Program Bali Mandara di berbagai bidang bertujuan mempercepat pengentasan kemiskinan. Jika kebutuhan masyarakat yang mendasar sudah terpenuhi seperti rumah layak , pendidikan, kesehataan, selanjutnya masyarakat akan  produktif, dan perekonomian kita akan membaik, ” ujarnya.

Untuk 2016, TPID Provinsi Bali akan mengarahkan programnya pada peningkatan peran Pemda dalam penyediaan  data harga (produksi dan konsumen), Pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah serta pemantauan lapangan dan telah menjadi program kerja TPID Bali serta implementasi model kerjasama antar daerah. “Semoga ke depannya seiring berjalannya program Bali Mandara, kita juga bisa menekan tingkat inflasi. Saya harapkan pemerintah pusat bisa menyiapkan payung hukum bagi pengendalian  inflasi di daerah,”  ujar Sudikerta yang hadir dengan didampingi Asisten ekonomi Pembanguan dan Kesejahteraan rakyat  Setda Provinsi Bali , Ketut Wija. (*)

Jumat, 12 Februari 2016

Bali Sebagai Clean Energy Center of Excellence Diluncurkan

Pastika, Jusuf Kalla dan Sudirman Said

PEMBUKAAN Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2016 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Kamis (11/2) menjadi momentum penting bagi Pulau Dewata dan Indonesia pada umumnya. Sebab, dalam acara ini, ada terobosan penting yang dilakukan. Yakni diluncurkannya Bali sebagai Clean Energy Center of Excellence (CoE) atau Pusat Keunggulan Energi Bersih Indonesia kepada masyarakat Internasional. Hal itu disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said pada acara yang berlangsung 11-12 Februari 2016 tersebut.

-  Punya Nyepi, Pastika Ingin Bali Jadi Island of Clean Energy

Said mengatakan CoE adalah pusat terpadu bagi penelitian, pengembangan hasil penelitian, pendidikan, peningkatan kapasitas pelaksanaan, hingga fasilitasi investasi dalam pengembangan energi bersih dengan tiga menu utama: informasi, teknologi, dan pendanaan.
“CoE akan menjadi kanal penghubung bagi kesiapan nasional dalam mewujudkan sistem energi yang berdasarkan pada sumber energi bersih dan berkelanjutan, karena mendukung upaya percepatan pengembangan energi terbarukan menjadi 23 persen dalam komposisi bauran energi nasional pada tahun 2025. Untuk jangka empat tahun ke depan, CoE akan berfokus 2 pada upaya mendukung program pembangunan ketenagalistrikan 35 MW, dimana 25 persennya atau sekitar 8,8 GW akan datang dari energi terbarukan,” imbuhnya.
Smentara itu direktur International Energy Agency, Dr Fatih Birol sangat mengapresiasi forum ini. Menurutnya saat ini Indonesia sudah siap memasuki era baru dalam memanfaatkan energy bersih. Fatih Birol menjelaskan bahwa saat ini perubahan iklim dunia sudah parah dan pemanfaatan energi dari baha fosil adalah penyumbang terbesar dari pemanasan global akhir-akhir ini. Maka dari itu dia berharap dalam forum ini bisa dirumuskan beberapa masukan untuk pemerintah dalam upaya mengefisiensikan energy dan juga memaksimalkan penggunaan energy bersih.
 “Saat ini Indonesia telah merencakanan banyak program ambisius, dan dikhawatirkan menghabiskan banyak energy juga di tengah tidak menentunya harga bahan bakar mentah. Maka pemanfaatan energi bersih sangat diperlukan. Ini adalah momentum untuk Indonesia dalam menyerukan energy bersih kepada dunia tandasnya.
Dalam forum ini juga diisi dengan Pertemuan Tingkat Menteri dan Lembaga Internasional yang akan dihadiri oleh perwakilan pemerintahan dari 26 negara dan 19 lembaga internasional,  Pertemuan Tingkat Ahli dan Pemangku Kepentingan dihadiri oleh sekitar 300 orang pakar/ahli dan pemangku kepentingan dari berbagai penjuru dunia juga Pertemuan Bisnis: dalam bentuk eksebisi dan marketplace yang akan dihadiri oleh lebih dari 700 pengusaha nasional dan internasional. Selain itu juga melibatkan Pertemuan Masyarakat Sipil; akan dihadiri oleh 53 orang perwakilan organisasi masyarakat sipil dan Pertemuan Komunitas Muda; akan dihadiri oleh 62 orang perwakilan komunitas muda.  
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said dalam laporannya menjelaskan bahwa BCEF 2016 yang dihelat pada 11-12 Februari 2016 ini diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bekerja sama dengan International Energy Agency (IEA), yaitu badan energi dunia yang sedang gencar mendorong penggunaan energi bersih. Tahun lalu, Indonesia bergabung dengan IEA bersama dengan China dan Thailand. Forum ini dihadiri oleh lebih dari 1.200 partisipan yang merupakan perwakilan negara-negara di dunia, antara lain Saudi Arabia, Australia, Timor Leste, Malaysia, Papua Nugini, Srilanka, Kamboja, Hungaria, Amerika Serikat, Denmark, Jepang, Swedia, Selandia Baru, Jerman, Swiss, Inggris, Kroasia, Azerbaijan, Norwegia, Kazakhstan, Finlandia, Spanyol, Iran, Perancis, Belgia dan Uni Eropa; perwakilan dunia usaha; pakar di bidang energi; perwakilan masyarakat sipil dan komunitas muda; serta media massa nasional dan internasional.

Sedangkan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan, Pertemuan BCEF ini menjadi sangat penting bukan hanya untuk menguatkan pembangunan energi nasional, namun juga internasional. Indonesia diberi kehormatan untuk memulai dialog antar negara yang memiliki kepentingan serupa dalam pengembangan energi bersih. Selain itu, juga untuk membentuk kemitraan global guna menjembatani kesenjangan dan memastikan tercapainya target energi bersih yang berkelanjutan bagi setiap orang. Dia juga berharap ke depan kontribusi Indonesia dalam menggagas forum ini bisa berdampak positif untuk keadaan iklim kita. (*)

Sabtu, 06 Februari 2016

Acer Terima Penghargaan TOP BRAND 2016

BALIINDEPTH -  Acer Indonesia kembali menerima penghargaan TOP BRAND AWARD 2016 untuk kategori NOTEBOOK/ LAPTOP/ NETBOOK menggunguli perusahaan-perusahaan sejenis dengan Brand Index sebesar 34,7%. Menurut TOPBrand Index, Acer menempati posisi teratas untuk kategori NOTEBOOK/ LAPTOP/ NETBOOK diikuti dengan Asus di tempat keduadengan Brand Index 16,5% dan Lenovo di tempat ketiga dengan Brand Index 11,1%.

Tentang Acer

Top Brand Award 2016 adalah suatu bentuk penghargaan yang diberikan kepada produk atau perusahaan yang memiliki konsumen setia, dikenal luas oleh konsumen di Indonesia dan dianggap yang paling sering dibeli oleh konsumen. Penghargaan ini merupakan buah dari kerja keras Acer Indonesia dalam membangun Top of Mind Shares, Top of market shares dan Top of Commitment Share.
Galuh Neftita, Head of Marketing Acer Indonesia mengatakan, “Penghargaan ini merupakan suatu bentuk apresiasi pelanggan terhadap produk kami. Acer sebagai perusahaan IT yang terkenal dengan produk PC dan Laptop di Indonesia terbukti telah terus berinovasi dan tetap menghadirkan teknologi terkini dalam melayani pelanggan kami sebaik-baiknya.”
Sebagai bentuk penghargaan kepada pelanggannya, Acer tetap akan selalumemberikan yang terbaik padasetiap layanan yang diberikan melalui produk-produk baru dan teknologi terdepan yang ditawarkan.
“Dengan visi ‘Menghilangkan penghalang antara manusia dan teknologi’, kami berharap seluruh produk-produk yang kami keluarkanke depannya senantiasa dapat selalu berguna bagi berbaga iaktivitas pengguna sehari-hari,” ujar Galuh menambahkan.
Top Brand Award 2016 yang digelar oleh Frontier Consulting Group ini diberikan kepada lebih dari 100 brand di Indonesia yang memiliki keunggulan di kategori dengan parameter brand, yaitu Top Of Mind, Top Of Market dan Top of Commitment. Pemenangnya diperoleh melalui riset dan survei yang melipatkan 14.000 responden dari seluruh Indonesia. Metodologi pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. (BiD)