Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

Lahan Pura Petilasan Maharsi Agastya Dijual Rp 2,5 M


AKUN facebook KHMB UNJ memuat sebuah cerita yang cukup miris terkait peninggalan bersejarah di daerah Cariu Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Di situ tercantum penulisnya bernama Putu Cahyani Ade Putri. Berikut curhat yang cukup miris tersebut.

Om Swastyastu, mau cerita sedikit ya buat pengetahuan aja.
Pura Petilasan Maharsi Agastya, Cariu Jonggol. Berdiri di atas lahan pribadi dari Bapak Putra yang beragama hindu.
Pemangku yang muput disana bernama Bapak Ida Bagus Putu Subali sudah meninggal, anak dan istrinya memilih untuk berpindah agama karena merasa kurang paham dengan segala macam tata upacara keagamaan dan merasa tidak ada yang membimbing.
Pura ini dibangun diatas lahan seluas kurang lebih 2,5 hektar. Berdasarkan informasi dari teman saya, anggota KMHB UNJ yang baru saja melakukan Tirtha Yatra ke Pura ini, ternyata seluruh tanah ini sudah terjual dengan harga 2,5 M dan dijual oleh anak dari pemilik pura. Informasi ini didapat dari salah satu anak buah Bapak Putra.
Selanjutnya, ketika hari ini keluarga saya datang ke Pura Petilasan ini, istri dari almarhum pemangku menjelaskan bahwa pelunasan akan dilakukan sehabis lebaran.
Mungkin karena banyak yang kurang tahu pura ini serta masyarakat sekitar yang bukan pemeluk hindu membuat pura petilasan ini menjadi kurang tersentuh.
Pertanyaannya adalah, kemanakah kita sebagai 
pemeluk agama hindu sehingga salah satu pura petilasan yang sangat berharga dan bersejarah ini bisa dijual kepada pihak lain?

Putu Cahyani Ade Putri
KMHB UNJ


BACA JUGA

Tempat yang Romantis di Tanah Wuk, Sangeh, Badung, Bali

Senin, 21 Maret 2016

Sejarah Besakih dari Dieng, Raung dan Gunung Agung

PURNAMA kedasa, adalah piodalan Bethara Turun Kabeh di Pura Besakih, Karangasem. Tahun ini, Purnama Kedasa jatuh pada, Rabu, 23 Maret 2016. Sebelum tangkil, ada baiknya kita mengenal sejarah Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Berdasarkan lontar Markandeya Purana, ternyata Pura Besakih ada kaitannya dengan Gunung Raung di Jawa Timur. Ini berawal dari kedatangan Resi Markandeya bersama 8.000 pengikutnya ke daerah hutan belantara yang terletak di kaki Gunung Agung. Mereka datang dari daerah Gunung Hyang (diduga sebagai Gunung Dieng di Jawa Tengah saat ini).
Rombongan itu, datang tanpa menyeberangi lautan. Sebab, sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali) antara Pulau Bali dan Jawa adalah satu daratan yang dikenal dengan nama Pulau Dawa.  

BACA JUGA:

-  Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad


Resi Markandeya, adalah seorang yogi berasal dari Hindustan (India). Oleh para pengiring-pengiringnya disebut Bathara Giri Rawang karena kesucian rohaninya, kecakapan hingga kebijaksanannya).
Awalnya, Sang Yogi, bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah Dieng di Jawa Tengah yang berasal dan kata di-hyang). Sekian lamanya bertapa, Resi Markandeya mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar Sang Yogi dan para pengikutnya merabas hutan di Pulau Dawa. Setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Mendapat titah itu, Sang Yogi kemudian berangkat ke arah timur bersama 8000 orang pengikutnya. Tiba di lokasi, Resi Marakandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Tapi, saat merabas hutan, banyak para pengiringnya sakit, lalu meninggal. Ada juga meregang nyawa karena dimakan binatang buas.

Menyaksikan para pengikutnya berjatuhan, Resi Markandeya memerintahkan untuk menghentikan semua aktivitas. Sang Yogi kemudian kembali lagi ke tempat pertapaannya semula di Gunung Rawang, (kini digekenal sebagai Gunung Raung, di Jawa Timur).

Beberapa waktu kemudian, suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) Sang Yogi kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru. Kali ini disertai oleh para Resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha ke hadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu.
Setelah tiba di tempat yang dituju,Sang Yogi segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Kali ini, pekerjaan merabas hutan ini tidak ada halangan yang berarti.
Selesai merabas hutan, Sang Yogi mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.Di tempat dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi menanam kendi (payuk) berisi air, juga pancadatu yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki yang kemudian kini dikenal sebagai Desa dan Pura Besakih. (*)

Jumat, 18 Maret 2016

Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa

KISAH terpisahnya Pulau Bali dan Pulau Jawa, dimulai saat Rsi Markandeya membawa sekitar 4.000 pengikut membangun Pura Besakih di Desa Besakih, Karangasem. Saat itu, Bali dan Jawa masih menjadi satu pulau. Sehingga mereka tidak perlu menyeberangi laut. Lalu, kenapa sekarang Bali dan Jawa terpisah?

BACA JUGA 

-  Wagub Tolak Jembatan Jawa-Bali

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali



Berdasarkan kitab Usana Bali, putusnya Pulau Jawa dan Bali, disebabkan oleh kesaktian Pandita bernama Mpu Sidhimantra.
Pandita yang tinggal di Jawa Timur, ini, bersahabat karib dengan seekor ular besar bernama Naga Basukih. Naga itu, berliang di Desa Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. Di sana terdapat sebuah goa besar yang sangat suci.
Sebagai tanda persahabatan, Mpu Sidhimantra selalu membawa madu, susu, dan mentega untuk Naga Besukih.
Mpu Sidhimantra memiliki seorang anak bernama Ida Manik Angkeran. Putranya ini dikenal sangat suka berjudi meski sudah dilarang ayahnya.
Pada satu purnama, Mpu Sidhimantra jatuh sakit. Mengetahui ayahnya sakit, Ida Manik Angkaran secara diam-diam pergi ke Bali menemui Naga Basukih di Besakih. Sampai di sana, Manik Angkeran duduk bersila membunyikan bajra yang dibawanya. Naga Basukih pun keluar dari liangnya. Saat itu, Manik Angkeran mengatakan bahwa ayahnya masih sakit. Oleh karena itu, dia menjadi wakilnya membawa madu, susu, dan mentega yang biasa dibawa oleh ayahnya.
Mendapat hidangan itu, Naga Basukih dengan senang menerima pemberian Manik Angkeran. Kemudian Naga Basukih bertanya kepada Ida Manik Angkeran, apakah yang diinginkan untuk bekal dalam perjalanan pulang.
Saat itu, Manik Angkeran tidak meminta apa pun. Dia hanya meminta Naga Basukih untuk kembali masuk ke dalam goa duluan.
Saat berbalik itulah, Manik Angkeran memotong ekor Naga Basukih yang berisi permata. Setelah mendapatkan permata itu di ekor Naga Basukih, Manik Angkeran kemudian lari.



Cuma, Manik Angkeran tidak bisa lari dari kemarahan Naga Basukih. Dalam pelariannya tersebut, jejak kaki Manik Angkeran ditemukan di sebuah hutan. Dengan kemarahannya, Naga Basukih kemudian membakar hutan bernama Cemara Geseng tersebut hingga Manik Angkeran tewas. 
Mpu Sidhimantra yang khawatir anaknya hilang tanpa kabar, kemudian mencarinya. Dari pencariannya, Mpu Sidhimantra mendapat cerita dari Naga Basukih soal kisah Manik Angkeran tersebut. Saat itu, Naga Basukih mengatakan, Manik Angkeran bisa hidup lagi dengan syarat harus tetap mengabdi di Pura Besakih sebagai Abdi pura atau pemangku dan tinggal di sana selamanya.
Mpu Sidhimantra menyetujui persyaratan itu. Dia pun kembali ke Jawa. Sebelum meninggalkan area Bali, Mpu Sidhimantra menggoreskan tongkatnya yang sakti sehingga Pulau Bali dan Pulau Jawa dipisahkan oleh Selat Bali atau Segara Rupek. (berdasarkan kitab Usana Bali)