Minggu, 27 Maret 2016

Pastika, Damantra, dan Wedakarna Satu Podium Bicara Reklamasi

PODIUM Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Renon, Minggu (27/3) agak berbeda. Sebab, ada dua wakil Bali di pusat hadir dan menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Mereka adalah Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra dan DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarma.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang juga hadir pada acara tersebut pun merasa bangga karena wadah penyaluran aspirasi yang digagasnya mendapat perhatian dua Senator RI asal Bali tersebut. “Ini menandakan, podium yang saya gagas makin berbobot,” ujar Pastika seraya berharap agar ke depannya lebih banyak lagi wakil Bali di Senayan bisa bicara di PB3AS.
Lebih jauh Pastika menuturkan bahwa gagasan untuk melaksanakan PB3AS terinspirasi oleh kegiatan serupa yang dilihatnya di London. Selain sebagai media penyaluran berbagai aspirasi, melalui kegiatan ini Pastika ingin mendorong orang Bali agar lebih berani bicara. “Di podium ini setiap orang boleh bicara mengenai apa saja tanpa dibatasi waktu, tentunya dengan santun dan beretika,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Pastika juga mengundang Dhamantra, Arya Wedakarna dan senator lainnya untuk hadir di Simakrama rutin digelar pada Sabtu di minggu terakhir setiap bulannya.
Sementara itu, dalam orasinya Nyoman Dhamantra mengatakan bahwa kehadirannya di PB3AS bertujuan untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana Revitalisasi Teluk Benoa yang diatur dalam Perpres Nomor 51 Tahun 2014. Politikus dari PDIP Bali ini menilai, gerakan penolakan revitalisasi Teluk Benoa belakangan makin masif dan serius. Dia berharap hal ini menjadi perhatian Gubernur Mangku Pastika. “Kami berharap Bapak Gubernur ikut bersama-sama memohon kepada Presiden agar Perpres Nomor 51 Tahun 2014 dicabut,” pintanya.
Menurut Dhamantra, faktor niskala menjadi alasan utama gerakan penolakan revitalisasi Kawasan Teluk Benoa.


"Kalau dari segi sekala seperti kajian AMDAL memang masih bisa diperdebatkan. Tapi yang menjadi dasar penolakan kami lebih ke faktor niskala," ujar Dhamantra seraya menyebut ada 31 pura di Kawasan Teluk Benoa yang perlu dijaga kesuciannya.
Lebih dari itu, kata Dhamantra, Bhisama PHDI sudah jelas melarang kegiatan pengurugan laut, danau dan campuhan. 
Selain bicara soal revitalisasi, Dhamantra juga meminta Gubernur mengkaji kembali kebijakan investasi di Bali. Karena dia mengamati, pesatnya pertumbuhan investasi tak membawa dampak signifikan bagi Krama Bali.
"Hotel dan vila menjamur, tapi banyak perajin yang saat ini mengalami kesulitan dan hampir bangkrut," ucapnya.
Untuk itu,dia menyarankan agar Gubernur mengatur kembali regulasi investasi agar lebih berpihak pada kepentingan Krama Bali. 
Pendapat senada juga disampaikan Anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Sampai kapan pun, ujar Wedakarna, dia akan berada di barisan terdepan dalam gerakan tolak reklamasi. Meski demikian, dia tetap menghormati aspirasi mereka yang mendukung rencana tersebut.
Ia juga menghimbau agar aspirasi disampaikan sesuai aturan dan beretika. Penolakan juga disampaikan Mangku Wayan Suteja. Dia menolak rencana Revitalisasi Teluk Benoa dengan alasan kawasan Bali Selatan sudah terlalu padat. Selain itu, rencana ini dinilai tak sejalan dengan pembangunan pariwisata berbasis adat dan budaya.
Selain kubu penolak, kelompok pendukung tak kalah sengit dalam mengemukakan pendapat mereka. Komang Gede Subudi, seorang warga Denpasar dengan lantang mengutarakan dukungannya terhadap rencana Revitalisasi Teluk Benoa. Menurutnya, Bali membutuhkan lapangan pekerjaan baru untuk menampung lulusan sarjana yang terus bertambah setiap tahunnya.
Dia juga mengingatkan agar pihak yang pro dan kontra tak mengatasnamakan adat dan agama dalam gerakan mereka. Dukungan juga diutarakan Wayan Suata, Wayan Ranten dan Lanang Sudira. Dalam orasinya, Ranten meluruskan bahwa revitalisasi bertujuan untuk mengembalikan kawasan Teluk Benoa. Dia yang lahir di Teluk Benoa tahu betul kondisi kawasan tersebut yang saat ini sangat memprihatinkan.



“Saat air surut, kita dapat melihat bagaimana kotornya kawasan itu. Banyak sampah, bangkai binatang hingga pembalut wanita. Apa itu yang disebut suci,” ujarnya dengan nada tanya. Kondisi serupa juga dibeber Lanang Sudira yang selama ini aktif dalam gerakan pelestarian mangrove.
Orator lainnya seperti Wayan Sutiawan dari Abian Semal dan Agung Ariawan dari Pedungan lebih memilih sikap netral. Keduanya berpendapat, saat ini keputusan ada di tangan presiden. Jika presiden mencabut Perpres, maka otimatis rencana itu akan batal. Pada bagian lain, Agung Ariawan juga mengkritisi gerakan mengatasnamakan Desa Pakraman yang kemudian difasilitasi kelompok aktifis tertentu.
Menurutnya, penyampaian aspirasi yang mengatasnamakan Desa Pakraman harus sesuai mekanisme. “Ada majelis madya hingga majelis utama, keliru kalau aspirasi desa pakraman dibawa oleh kelompok aktivis. Itu yang perlu diluruskan,” tandasnya.
Menyimak pro dan kontra terkait dengan rencana revitalisasi kawasan Teluk Benoa,
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan dirinya tak berpihak pada kepentingan atau kelompok manapun. “Mereka yang pro maupun yang kontra, semua adalah tanggung jawab saya. Saya tak boleh berpihak dan harus ada di kedua belah pihak,” ujarnya.
Untuk itulah, dia mengundang pihak yang pro maupun yang kontra untuk menyampaikan pendapat di PB3AS. Terkait dengan polemik rencana revitalisasi Teluk Benoa, Pastika akan mempertemukan kedua belah pihak dalam sebuah diskusi. “Mari kita kaji baik buruk dan untung ruginya. Kita bicara dengan pikiran lebih jernih,” pungkasnya. (humas pemprov bali)

 BACA JUGA

-  Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi 


Jumat, 25 Maret 2016

Jepang Kenalkan Mobil Listrik Tanpa Baterai

SOAL inovasi bidang tekonologi, Jepang memang jagonya. Kali ini mereka membuat inovasi yang cukup menakjubkan. Yakni sebuah mobil listrik pertama tanpa baterai pertama di dunia. Produk ini dikenalkan oleh kelompok peneliti dari Toyohashi University of Technology dan Taisei Corp, 18 Maret 2016 lalu,
Dalam terobosan pertama di dunia itu disebutkan bahwa mobil itu menggunakan ban khusus yang menyalurkan tenaga listrik dari permukaan jalan yang dialiri listrik. Mobil yang berkapasitas satu orang saja itu diuji pada jalanan khusus sepanjang 30 meter dengan kecepatan 10 km/jam. Seperti dikutip dalam zetizen.com, dalam sesi tes tersebut, mobil mampu bergerak mulus karena kawat baja yang tertanam di dalam ban mampu menyediakan sumber. Sayangnya, mobil listrik itu untuk sementara hanya bisa berjalan di jalanan yang didesain khusus dengan material tertentu.

“Kendaraan ini masih belum cocok untuk dikemudikan jarak jauh karena kapasitasnya yang masih relatif kecil dan masih baru bisa berjalan di jalanan khusus. Namun akselerasi dari mobil ini sudah halus dan nyaman saat dikemudikan,” ujar Takashi Ohira, salah satu profesor yang tergabung dalam tim penelitri, dilansir dari Japan Times

Untuk menciptakan mobil ramah lingkungan itu, tim yang tergabung dalam proyek ini memodifikasi mobil Toyota bernama Toyota Auto Body’s Coms. Mobil itu awalnya memiliki berat 120 kg, tetapi bobotnya berkurang jauh karena tim mencopot baterai yang terpasang. Rencananya, mobil itu siap diuji coba secara publik pada 2022. Para peneliti berharap penggunaan mobil tanpa baterai itu bisa bekerja sama dengan operator jalan tol. (*)
Foto: google


BACA JUGA 

-  Domino’s Pizza Bikin Robot Pengirim Pizza Pertama di Dunia

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

Senin, 21 Maret 2016

Domino’s Pizza Bikin Robot Pengirim Pizza Pertama di Dunia

MUNGKINKAH Profesi pengantar Pizza bisa terancam? Bisa saja. Sebab kini Dmonino’s Pizza, sebiah vendor pizza pesan antar asal Amerika Serikat baru saja meluncurkan prototipe robot pengirim pizza otomatis Kamis (17/3) di di Brisbane, Australia. Robot pengirim pizza otomatis pertama di dunia ini diberi nama DRU alias Domino’s Robotic Unit. Kehadirannya, diprediksi bakal mempermudah proses pengiriman pizza karena dapat dilakukan secara otomatis dan lebih cepat.
Prototipe ini digarap oleh Domino’s Pizza bekerja sama dengan Marathon Robotics, sebuah perusahaan startup asal Australia. Dalam rancangannya ada dua kompartemen terpisah dalam robot ini. Yakni untuk makanan hangan dan minuman dingin. Dan, robot ini bisa langsung mengantar hangat dan minuman dingin itu langsung ke alamat pemesan. Sebab, robot ini dilengakpi dengan alat pelacak alamat dan menyerahkan pizza ke pemesannya. 

Tidak itu saja. Robot DRU ini juga bisa berkomunikasi dengan pemesan pizza. Bahkan, DRU juga bisa menerima pembayaran saat mengantar pesanan.  


Robot ini dikendalikan oleh sistem penggerak elektrik yang mampu membawanya menelusuri trotoar dan halaman rumah customer dengan kecepatan hingga 18 km/jam. Sementara untuk menentukan lokasi dan alamat, robot ini dipandu oleh sistem GPS dan laser pemindai lingkungan sekitar.
DRU juga dilengkapi sistem kamera keamanan yang akan langsung memberi peringatan saat posisinya terancam oleh pencuri atau semacamnya.
Meski belum operasional, robot berharga USD 22.000 atau sekitar Rp 220 juta ini telah berhasil menjalani beberapa tes lapangan di kota Brisbane, sebagaimana dilansir dari situs lifehacker. “Robot ini benar benar otomatis dan mandiri. Namun segi AI (Artificial intelegence) nya sendiri masih perlu banyak peningkatan,” Ujar Don Meij, Pimpinan Domino’s Australia. “Terutama untuk membuat komputer sistemnya lebih tahan gangguan yang pastinya akan muncul di luar sana,” kata Meij lagi.(zetizen)



Sejarah Besakih dari Dieng, Raung dan Gunung Agung

PURNAMA kedasa, adalah piodalan Bethara Turun Kabeh di Pura Besakih, Karangasem. Tahun ini, Purnama Kedasa jatuh pada, Rabu, 23 Maret 2016. Sebelum tangkil, ada baiknya kita mengenal sejarah Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Berdasarkan lontar Markandeya Purana, ternyata Pura Besakih ada kaitannya dengan Gunung Raung di Jawa Timur. Ini berawal dari kedatangan Resi Markandeya bersama 8.000 pengikutnya ke daerah hutan belantara yang terletak di kaki Gunung Agung. Mereka datang dari daerah Gunung Hyang (diduga sebagai Gunung Dieng di Jawa Tengah saat ini).
Rombongan itu, datang tanpa menyeberangi lautan. Sebab, sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali) antara Pulau Bali dan Jawa adalah satu daratan yang dikenal dengan nama Pulau Dawa.  

BACA JUGA:

-  Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad


Resi Markandeya, adalah seorang yogi berasal dari Hindustan (India). Oleh para pengiring-pengiringnya disebut Bathara Giri Rawang karena kesucian rohaninya, kecakapan hingga kebijaksanannya).
Awalnya, Sang Yogi, bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah Dieng di Jawa Tengah yang berasal dan kata di-hyang). Sekian lamanya bertapa, Resi Markandeya mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar Sang Yogi dan para pengikutnya merabas hutan di Pulau Dawa. Setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Mendapat titah itu, Sang Yogi kemudian berangkat ke arah timur bersama 8000 orang pengikutnya. Tiba di lokasi, Resi Marakandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Tapi, saat merabas hutan, banyak para pengiringnya sakit, lalu meninggal. Ada juga meregang nyawa karena dimakan binatang buas.

Menyaksikan para pengikutnya berjatuhan, Resi Markandeya memerintahkan untuk menghentikan semua aktivitas. Sang Yogi kemudian kembali lagi ke tempat pertapaannya semula di Gunung Rawang, (kini digekenal sebagai Gunung Raung, di Jawa Timur).

Beberapa waktu kemudian, suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) Sang Yogi kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru. Kali ini disertai oleh para Resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha ke hadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu.
Setelah tiba di tempat yang dituju,Sang Yogi segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Kali ini, pekerjaan merabas hutan ini tidak ada halangan yang berarti.
Selesai merabas hutan, Sang Yogi mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.Di tempat dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi menanam kendi (payuk) berisi air, juga pancadatu yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki yang kemudian kini dikenal sebagai Desa dan Pura Besakih. (*)

Minggu, 20 Maret 2016

Menyemut, Bukti Tidak Segelintir yang Tolak Reklamasi

AKSI penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa terus bergulir. Minggu (20/3), ribuan orang menyemut di bundaran Ngurah Rai, Tuban, Badung, Bali. Mereka seolah membuktikan bahwa tudingan penolak reklamasi Teluk Benoa hanya segelintir tidak benar.
Ribuan massa datang dari 27 Desa Adat di Bali yang sudah resmi menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional  (TWBI). Ada juga dari kelompok aktivis lingkungan dan lainnya.  

Aksi demo dimulai dari Desa Adat Kelan menuju Bundaran Ngurah Rai dengan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer. Beberapa spanduk yang berisikan kampanye Tolak Reklamasi Teluk Benoa dan batalkan Prepres no 51 thaun 2014 ikut dibawa massa.

“Kami menuntut pencabutan Perpres 51 tahun 2014 dan menolak reklamasi Teluk Benoa,” kata salah satu warga.
“Tolak Reklamasi Teluk Benoa,” teriak sejumlah warga sambil mengacung-acungkan spanduk penolakan.  
Demonstrasi dimulai sekitar pukul 14.00. Mereka kompak menggunakan pakaian adat dengan baju dan udeng putih. Mereka juga membawa ogoh-ogoh bertuliskan tolak reklamasi. 

Semua atribut yang dibawa warga berisi kecaman atas reklamasi Teluk Tanjung Benoa. Aksi mendapat pengawalan ketat polisi dan menjadi perhatian bule. (*)

foto: Dishub Provinsi Bali

BACA JUGA

-  Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad

Sabtu, 19 Maret 2016

Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi

BALI diserang oleh alien berdasi yang datang dari luar angkasa. Tujuan utamanya adalah melakukan reklamasi untuk membangun markas luar angkasa. Bantu Perjuangan Bli Gede dalam melawan serangan alien karena reklamasi akan merugikan Bali. Bantu sebarkan semangat tolak reklamasi!
Begitulah, deskripsi tentang game Bli Gede Tolak Reklamasi yang terakhir diperbaruhi 15 Maret 2016. Game yang sudah di Google Play, ini dikembangkan oleh Bli Gede Studio dengan ukuran 6,5 M.
Pada tampilan pertama tampak seorang pemuda mengenakan udeng dengan kamen khas pakaian adat Bali membawa katepel yang disebut sebagai Bli Gede. Sedangkan di sebelah kanan ada sosok alien berdasi dengan alat berat di belakangnya. Di bagian atas tertulis Bli Gede Tolak Reklamasi.


Pada halaman berikutnya, digambarkan Bli Gede sedang bermain layang-layang di pantai yang indah dengan pepohonan yang hijau. Di sana ada keterangan bahwa; Bli Gede adalah seorang pemuda asal Pulau Bali. Dia sangat mencintai alam Bali khususnya pantai. Dia sangat senang bermain layang-layang di pantai…  
Pada halaman ketiga, Bli Gede digambarkan sangat terkejut dengan kehadiran beberapa alien berdasi yang datang dari luar angkasa secara tiba-tiba. Alien itu turun membawa bom.
Pada halaman keempat, tampak Bli Gede berhasil mencuri bom yang dibawa para alien berdasi. Dia digambarkan melihat kegiatan para alien berdasi dengan alat berat di pantai tempatnya biasa bermain layang-layang. Alat berat itu digambarkan mengeruk tanah untuk menguruk laut.
Di gambar ini juga diisi keterangan tujuan para alien berdasi itu adalah melakukan reklamasi (menguruk laut). “Tujuan alien-alien itu adalah membuat daratan baru  dengan mengubur laut dengan tanah (reklamasi) yang akan digunakan membangun markas,” begitu keterangan yang ada di gambar tersebut.
Halaman berikutnya adalah, aktivitas alat berat menguruk laut diawasi para alien berdasi. Sementara Bli Gede masih melihat sambil mengamankan bom yang dicurinya. Di sana juga dijelaskan melalui tulisan bahwa reklamasi sangat buruk bagi Bali. Mulai dari menyempitnya pantai, abrasi hingga perubahan arus laut serta hilangnya tempat nelayan.


Dan sebelum game dimulai, Bli Gede digambarkan melawan para alien berdasi itu dengan menggunakan ketapel dan bom hasil curiannya.
“Maju terus tambah lagi game tema Bali,” tulis Wiwik Antari mengomentari game ini di Google Play.
Sementara komentar lain lebih banyak memberikan dukungan terhadap game ini serta aksi tolak reklamasi Teluk Benoa. “Bali Tolak Reklamasi, Bali tidak bisa dijual gan semangat,” tulis Ngurah Rama. “Mantap, semangat. Hanya ada satu kata, Lawan!” tulis Gustra Putra. (*)

FOTO: GOOGLE PLAY


DOWNLOAD GAME 

Bli Gede Tolak Reklamasi


BACA JUGA 

-  Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa 

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad








Jumat, 18 Maret 2016

Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa

KISAH terpisahnya Pulau Bali dan Pulau Jawa, dimulai saat Rsi Markandeya membawa sekitar 4.000 pengikut membangun Pura Besakih di Desa Besakih, Karangasem. Saat itu, Bali dan Jawa masih menjadi satu pulau. Sehingga mereka tidak perlu menyeberangi laut. Lalu, kenapa sekarang Bali dan Jawa terpisah?

BACA JUGA 

-  Wagub Tolak Jembatan Jawa-Bali

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali



Berdasarkan kitab Usana Bali, putusnya Pulau Jawa dan Bali, disebabkan oleh kesaktian Pandita bernama Mpu Sidhimantra.
Pandita yang tinggal di Jawa Timur, ini, bersahabat karib dengan seekor ular besar bernama Naga Basukih. Naga itu, berliang di Desa Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung. Di sana terdapat sebuah goa besar yang sangat suci.
Sebagai tanda persahabatan, Mpu Sidhimantra selalu membawa madu, susu, dan mentega untuk Naga Besukih.
Mpu Sidhimantra memiliki seorang anak bernama Ida Manik Angkeran. Putranya ini dikenal sangat suka berjudi meski sudah dilarang ayahnya.
Pada satu purnama, Mpu Sidhimantra jatuh sakit. Mengetahui ayahnya sakit, Ida Manik Angkaran secara diam-diam pergi ke Bali menemui Naga Basukih di Besakih. Sampai di sana, Manik Angkeran duduk bersila membunyikan bajra yang dibawanya. Naga Basukih pun keluar dari liangnya. Saat itu, Manik Angkeran mengatakan bahwa ayahnya masih sakit. Oleh karena itu, dia menjadi wakilnya membawa madu, susu, dan mentega yang biasa dibawa oleh ayahnya.
Mendapat hidangan itu, Naga Basukih dengan senang menerima pemberian Manik Angkeran. Kemudian Naga Basukih bertanya kepada Ida Manik Angkeran, apakah yang diinginkan untuk bekal dalam perjalanan pulang.
Saat itu, Manik Angkeran tidak meminta apa pun. Dia hanya meminta Naga Basukih untuk kembali masuk ke dalam goa duluan.
Saat berbalik itulah, Manik Angkeran memotong ekor Naga Basukih yang berisi permata. Setelah mendapatkan permata itu di ekor Naga Basukih, Manik Angkeran kemudian lari.



Cuma, Manik Angkeran tidak bisa lari dari kemarahan Naga Basukih. Dalam pelariannya tersebut, jejak kaki Manik Angkeran ditemukan di sebuah hutan. Dengan kemarahannya, Naga Basukih kemudian membakar hutan bernama Cemara Geseng tersebut hingga Manik Angkeran tewas. 
Mpu Sidhimantra yang khawatir anaknya hilang tanpa kabar, kemudian mencarinya. Dari pencariannya, Mpu Sidhimantra mendapat cerita dari Naga Basukih soal kisah Manik Angkeran tersebut. Saat itu, Naga Basukih mengatakan, Manik Angkeran bisa hidup lagi dengan syarat harus tetap mengabdi di Pura Besakih sebagai Abdi pura atau pemangku dan tinggal di sana selamanya.
Mpu Sidhimantra menyetujui persyaratan itu. Dia pun kembali ke Jawa. Sebelum meninggalkan area Bali, Mpu Sidhimantra menggoreskan tongkatnya yang sakti sehingga Pulau Bali dan Pulau Jawa dipisahkan oleh Selat Bali atau Segara Rupek. (berdasarkan kitab Usana Bali)