Sabtu, 09 April 2016

Tolak Reklamasi Teluk Benoa di Jakarta dan Kota Lain


PERLAWANAN masyarakat menolak reklamasi Teluk Benoa di Bali, kini kian menggema ke seluruh pelosok negeri ini. Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi, yang menyangga berbagai keragaman hayati, sumber penghidupan bagi masyarakat, serta kawasan suci bagi masyarakat Hindu di Bali. Mereklamasi kawasan Teluk Benoa berarti juga menimbun perairan yang dihidupi berbagai spesies yang merawat keanekaragaman hayati, juga menjarah hak sipil para masyarakat setempat untuk memiliki lingkungan hidup yang sehat dan situs peribadahan.
Aksi solidaritas yang dilakukan di Jakarta dan juga di beberapa daerah di Indonesia merupakan protes terhadap bagaimana pemerintah mengabaikan fakta-fakta ekologis, sosial, dan religi Teluk Benoa dan relasinya dengan masyarakat Bali.
“Pesan dari aksi solidaritas ini tegas dan jelas. Kami menyerukan dicabutnya Perpres No. 51 Tahun 2014! Aksi solidaritas ini tidak hanya dilakukan di Jakarta, tetapi juga dilakukan di Bandung, Palangkaraya, Belitong, Makassar, di hari yang sama. Menyusul Bangka dan Jogjakarta di hari yang berbeda”, ujar John Tirayoh dari ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa) simpul Jakarta. “Aksi solidaritas ini merupakan dukungan terhadap aksi-aksi yang telah dilaksanakan di Bali yang dipimpin oleh ketua-ketua adat. Aksi solidaritas ini bermaksud untuk menggemakan suara masyarakat di Bali,” lanjutnya.
ForBALI menggugat keberadaan Perpres tersebut karena melanggar semangat konstitusi Republik Indonesia. Dua hal khususnya yang kami soroti adalah perlindungan lingkungan hidup dan juga perlindungan terhadap masyarakat adat. Upaya reklamasi Teluk Benoa telah melalaikan dua hal yang saling terkait ini. Peraturan Presiden No. 51 Tahun 2014 ini dilihat seperti telah memberikan jebakan betmen bagi Pemerintahan Joko Widodo.
“Peraturan Presiden ini ditandatangani tidak lama sebelum Mantan Presiden SBY menyelesaikan masa jabatannya. Peraturan Presiden ini adalah sebuah kebijakan pembangunan warisan dari Pemerintahan SBY. Produk kebijakan turunan dari MP3EI yang mendapat penolakan keras dari masyarakat Bali saat ini menjadi beban rezim Presiden Joko Widodo. Proses pembuatan Perpres dilakukan kilat, giliran mendapat penolakan, Presiden Joko Widodo yang harus menghadapinya”, ujar I Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI.
Ketika ditanya tentang proses pembuatan Peraturan Presiden yang mengubah status kawasan Teluk Benoa dari konservasi ke kawasan budidaya, pria yang akrab disapa Gendo ini menjelaskan, “Dibawah Pemerintahan SBY, Perpres tersebut diubah hanya dalam waktu 5 (lima) bulan setelah Gubernur Bali Mangku Pastika mengajukan permohonan mengenai perubahan Perpres No 45/2011 tanggal 23 Desember 2013. Lalu, 2 (dua) bulan setelahnya, PT TWBI mendapatkan ijin lokasi reklamasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Hanya dalam waktu yang singkat.”
Melalui aksi solidaritas di berbagai kota ini, ForBALI juga mendorong agar Presiden Joko Widodo segera menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa serta mencabut Perpres No 51/2014 agar lepas dari jebakan rezim sebelumnya.
Gerakan melindungi Teluk Benoa dari ancaman reklamasi juga menjadi mercusuar bagi inisiatif lainnya untuk melindungi pesisir Indonesia. Diperlukan gerakan masyarakat secara total dan tidak berbatas untuk menjaga perairan Indonesia dari berbagai upaya privatisasi, penghancuran maupun pembangunan yang tidak berkelanjutan. Menyelamatkan Teluk Benoa berarti menjaga pesisir Indonesia dan secara global, menjaga alam untuk seluruh umat manusia. (ForBali)



Atribut Tolak Reklamasi Teluk Benoa Terus Meluas

MENUNGGU waktu digelarnya persembahyangan bersama oleh Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa pada hari ini (Minggu, 10/4) di Pura Sakenan, Pulau Serangan, Denpasar untuk memohon rest uterus berjuang menolak reklamasi berkedok revitalisasi teluk benoa, rakyat bali di berbagai penjuru Bali antusias memasang baliho dan atribut penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Di Nusa Dua, Bali
Sekaa Teruna Teruni (STT) Banjar Penyarikan dan Bocah-Bocah Creative (BBC), Bualu, Nusa Dua siang tadi mendirkan baliho penolakan reklamasi teluk benoa di wilayah mereka. Hadir juga di dalam pemasangan baliho tersbut Ketua BBC  I wayan Santika bersama kepala lingkungan penyarikan I Nyoman Sueta, SE. dan juga Jro Mangku Angin.
I Nyoman Sueta, Kepala Lingkungan Penyarikan menjelaskan, Pemasangan Baliho tersebut adalah sebagai bentuk permohonan restu kepada Jro Gede Mecaling agar diberikan restu menuju persembahyangan bersama Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. “sesuai dengan simbol yang yang kami pasang di baliho adalah JRO gede Mecaling yang berstana di Pura Dalem Nusa, agar Ida Betara nuntun perjalanan kami dan kami diberikan restu acara persmbhyang sebentar lagi. Kami menganggap beliau lah yang menuntun kita dlm perjalanan dan perjuangan menolak reklamasi teluk benoa ini” papar nyoman sueta.
Sementara itu, ketua BBC menjelaskan pemasangan baliho selain sebagi bentuk permohona restu kepada ida betara yang berstana di Pura Dalem Nusa, pendirian baliho tersebut untuk meminta kepada Presiden Joko Widodo agar segera mencabut perpres 51/2014. “Kepada Bapak Presiden RI Joko Widodo agar mencabut Perpres 51 Tahun 2014. Pencabutan perpres 51 tahun 2014 ini sangatlah penting selain untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa serta pencabutan Perpres No 51/2014 agar melepaskan Presiden dari jebakan rezim sebelumnya” Papar Wayan Santika.


Di Legian, Kuta, Bali
Di sepanjang jalan legian, Kuta, masyarakat legian yang dikoordinir oleh Solidaritas Legian Peduli (SOLID) melakukan pemasangan panji-panji penolakan reklamasi Teluk Benoa. di hubungi langsung, Koordintor SOLID Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjelaskan pemasangan panji-panji tolak reklamasi teluk benoa tersebut untuk menyampaikan pada khalayak luas dan mendapatkan reaksi dari wisatawan yang berada di wilayah legian untuk menanyakan langsung kepada masyarakat legian tentang alasan penolakan reklamasi teluk benoa. sebagai daerah pariwisata menurutnya pemasang baliho tersebut akan menadapatkan perhatian lebih. “Mengingat kita daerah kawasan wisata, kita yakin akan mendapat fokus perhatian lebih. Hal ini jg kita buktikan secara langsung mendapat reaksi wisatawan dgn dgn bertanya kpd masy dan mendapatkan review positif ikut mendukung pergerakan ini krn yg mrk inginkan adl wisata budaya dan kealamian Bali utk dtg kesini” papar Koordintor SOLID AA. Putu Oka Hartawan.

Ia juga menjelaskan sebagai daerah yang berada di kawasan pariwisata, legian tidak anti dengan invetasi akan tetapi menurrutnya investasi yang merusak seperti rencana reklamasi teluk benoa harus dibatalkan karena reklamasi teluk benoa justru akan menghacurkan pariwisata bali yang ada saat ini. “Panji-panji kita sengaja dipasang dijalan utama Jl Legian-Kuta sebagai bentuk protes atas adanya rencana reklamasi Teluk Benoa dan meminta agar Perpres 51/2014 segera dicabut” ujaranya. Pencabutan perpres 51/2014 dengan mengembalikan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi akan menghindarkan bali dari kerusakan yang lebih parah. Untuk terus membela ibu pertiwi, koordinator SOLID juga menekankan jika semua panji-panji yang dipasang adalah swadaya dari masyarakat Legian, dengan sukarela membelinya atas dasar hati nurani. (ForBali)




Minggu, 27 Maret 2016

Pastika, Damantra, dan Wedakarna Satu Podium Bicara Reklamasi

PODIUM Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Renon, Minggu (27/3) agak berbeda. Sebab, ada dua wakil Bali di pusat hadir dan menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Mereka adalah Anggota DPR RI Nyoman Dhamantra dan DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarma.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang juga hadir pada acara tersebut pun merasa bangga karena wadah penyaluran aspirasi yang digagasnya mendapat perhatian dua Senator RI asal Bali tersebut. “Ini menandakan, podium yang saya gagas makin berbobot,” ujar Pastika seraya berharap agar ke depannya lebih banyak lagi wakil Bali di Senayan bisa bicara di PB3AS.
Lebih jauh Pastika menuturkan bahwa gagasan untuk melaksanakan PB3AS terinspirasi oleh kegiatan serupa yang dilihatnya di London. Selain sebagai media penyaluran berbagai aspirasi, melalui kegiatan ini Pastika ingin mendorong orang Bali agar lebih berani bicara. “Di podium ini setiap orang boleh bicara mengenai apa saja tanpa dibatasi waktu, tentunya dengan santun dan beretika,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Pastika juga mengundang Dhamantra, Arya Wedakarna dan senator lainnya untuk hadir di Simakrama rutin digelar pada Sabtu di minggu terakhir setiap bulannya.
Sementara itu, dalam orasinya Nyoman Dhamantra mengatakan bahwa kehadirannya di PB3AS bertujuan untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana Revitalisasi Teluk Benoa yang diatur dalam Perpres Nomor 51 Tahun 2014. Politikus dari PDIP Bali ini menilai, gerakan penolakan revitalisasi Teluk Benoa belakangan makin masif dan serius. Dia berharap hal ini menjadi perhatian Gubernur Mangku Pastika. “Kami berharap Bapak Gubernur ikut bersama-sama memohon kepada Presiden agar Perpres Nomor 51 Tahun 2014 dicabut,” pintanya.
Menurut Dhamantra, faktor niskala menjadi alasan utama gerakan penolakan revitalisasi Kawasan Teluk Benoa.


"Kalau dari segi sekala seperti kajian AMDAL memang masih bisa diperdebatkan. Tapi yang menjadi dasar penolakan kami lebih ke faktor niskala," ujar Dhamantra seraya menyebut ada 31 pura di Kawasan Teluk Benoa yang perlu dijaga kesuciannya.
Lebih dari itu, kata Dhamantra, Bhisama PHDI sudah jelas melarang kegiatan pengurugan laut, danau dan campuhan. 
Selain bicara soal revitalisasi, Dhamantra juga meminta Gubernur mengkaji kembali kebijakan investasi di Bali. Karena dia mengamati, pesatnya pertumbuhan investasi tak membawa dampak signifikan bagi Krama Bali.
"Hotel dan vila menjamur, tapi banyak perajin yang saat ini mengalami kesulitan dan hampir bangkrut," ucapnya.
Untuk itu,dia menyarankan agar Gubernur mengatur kembali regulasi investasi agar lebih berpihak pada kepentingan Krama Bali. 
Pendapat senada juga disampaikan Anggota DPD RI I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Sampai kapan pun, ujar Wedakarna, dia akan berada di barisan terdepan dalam gerakan tolak reklamasi. Meski demikian, dia tetap menghormati aspirasi mereka yang mendukung rencana tersebut.
Ia juga menghimbau agar aspirasi disampaikan sesuai aturan dan beretika. Penolakan juga disampaikan Mangku Wayan Suteja. Dia menolak rencana Revitalisasi Teluk Benoa dengan alasan kawasan Bali Selatan sudah terlalu padat. Selain itu, rencana ini dinilai tak sejalan dengan pembangunan pariwisata berbasis adat dan budaya.
Selain kubu penolak, kelompok pendukung tak kalah sengit dalam mengemukakan pendapat mereka. Komang Gede Subudi, seorang warga Denpasar dengan lantang mengutarakan dukungannya terhadap rencana Revitalisasi Teluk Benoa. Menurutnya, Bali membutuhkan lapangan pekerjaan baru untuk menampung lulusan sarjana yang terus bertambah setiap tahunnya.
Dia juga mengingatkan agar pihak yang pro dan kontra tak mengatasnamakan adat dan agama dalam gerakan mereka. Dukungan juga diutarakan Wayan Suata, Wayan Ranten dan Lanang Sudira. Dalam orasinya, Ranten meluruskan bahwa revitalisasi bertujuan untuk mengembalikan kawasan Teluk Benoa. Dia yang lahir di Teluk Benoa tahu betul kondisi kawasan tersebut yang saat ini sangat memprihatinkan.



“Saat air surut, kita dapat melihat bagaimana kotornya kawasan itu. Banyak sampah, bangkai binatang hingga pembalut wanita. Apa itu yang disebut suci,” ujarnya dengan nada tanya. Kondisi serupa juga dibeber Lanang Sudira yang selama ini aktif dalam gerakan pelestarian mangrove.
Orator lainnya seperti Wayan Sutiawan dari Abian Semal dan Agung Ariawan dari Pedungan lebih memilih sikap netral. Keduanya berpendapat, saat ini keputusan ada di tangan presiden. Jika presiden mencabut Perpres, maka otimatis rencana itu akan batal. Pada bagian lain, Agung Ariawan juga mengkritisi gerakan mengatasnamakan Desa Pakraman yang kemudian difasilitasi kelompok aktifis tertentu.
Menurutnya, penyampaian aspirasi yang mengatasnamakan Desa Pakraman harus sesuai mekanisme. “Ada majelis madya hingga majelis utama, keliru kalau aspirasi desa pakraman dibawa oleh kelompok aktivis. Itu yang perlu diluruskan,” tandasnya.
Menyimak pro dan kontra terkait dengan rencana revitalisasi kawasan Teluk Benoa,
Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan dirinya tak berpihak pada kepentingan atau kelompok manapun. “Mereka yang pro maupun yang kontra, semua adalah tanggung jawab saya. Saya tak boleh berpihak dan harus ada di kedua belah pihak,” ujarnya.
Untuk itulah, dia mengundang pihak yang pro maupun yang kontra untuk menyampaikan pendapat di PB3AS. Terkait dengan polemik rencana revitalisasi Teluk Benoa, Pastika akan mempertemukan kedua belah pihak dalam sebuah diskusi. “Mari kita kaji baik buruk dan untung ruginya. Kita bicara dengan pikiran lebih jernih,” pungkasnya. (humas pemprov bali)

 BACA JUGA

-  Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi 


Jumat, 25 Maret 2016

Jepang Kenalkan Mobil Listrik Tanpa Baterai

SOAL inovasi bidang tekonologi, Jepang memang jagonya. Kali ini mereka membuat inovasi yang cukup menakjubkan. Yakni sebuah mobil listrik pertama tanpa baterai pertama di dunia. Produk ini dikenalkan oleh kelompok peneliti dari Toyohashi University of Technology dan Taisei Corp, 18 Maret 2016 lalu,
Dalam terobosan pertama di dunia itu disebutkan bahwa mobil itu menggunakan ban khusus yang menyalurkan tenaga listrik dari permukaan jalan yang dialiri listrik. Mobil yang berkapasitas satu orang saja itu diuji pada jalanan khusus sepanjang 30 meter dengan kecepatan 10 km/jam. Seperti dikutip dalam zetizen.com, dalam sesi tes tersebut, mobil mampu bergerak mulus karena kawat baja yang tertanam di dalam ban mampu menyediakan sumber. Sayangnya, mobil listrik itu untuk sementara hanya bisa berjalan di jalanan yang didesain khusus dengan material tertentu.

“Kendaraan ini masih belum cocok untuk dikemudikan jarak jauh karena kapasitasnya yang masih relatif kecil dan masih baru bisa berjalan di jalanan khusus. Namun akselerasi dari mobil ini sudah halus dan nyaman saat dikemudikan,” ujar Takashi Ohira, salah satu profesor yang tergabung dalam tim penelitri, dilansir dari Japan Times

Untuk menciptakan mobil ramah lingkungan itu, tim yang tergabung dalam proyek ini memodifikasi mobil Toyota bernama Toyota Auto Body’s Coms. Mobil itu awalnya memiliki berat 120 kg, tetapi bobotnya berkurang jauh karena tim mencopot baterai yang terpasang. Rencananya, mobil itu siap diuji coba secara publik pada 2022. Para peneliti berharap penggunaan mobil tanpa baterai itu bisa bekerja sama dengan operator jalan tol. (*)
Foto: google


BACA JUGA 

-  Domino’s Pizza Bikin Robot Pengirim Pizza Pertama di Dunia

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

Senin, 21 Maret 2016

Domino’s Pizza Bikin Robot Pengirim Pizza Pertama di Dunia

MUNGKINKAH Profesi pengantar Pizza bisa terancam? Bisa saja. Sebab kini Dmonino’s Pizza, sebiah vendor pizza pesan antar asal Amerika Serikat baru saja meluncurkan prototipe robot pengirim pizza otomatis Kamis (17/3) di di Brisbane, Australia. Robot pengirim pizza otomatis pertama di dunia ini diberi nama DRU alias Domino’s Robotic Unit. Kehadirannya, diprediksi bakal mempermudah proses pengiriman pizza karena dapat dilakukan secara otomatis dan lebih cepat.
Prototipe ini digarap oleh Domino’s Pizza bekerja sama dengan Marathon Robotics, sebuah perusahaan startup asal Australia. Dalam rancangannya ada dua kompartemen terpisah dalam robot ini. Yakni untuk makanan hangan dan minuman dingin. Dan, robot ini bisa langsung mengantar hangat dan minuman dingin itu langsung ke alamat pemesan. Sebab, robot ini dilengakpi dengan alat pelacak alamat dan menyerahkan pizza ke pemesannya. 

Tidak itu saja. Robot DRU ini juga bisa berkomunikasi dengan pemesan pizza. Bahkan, DRU juga bisa menerima pembayaran saat mengantar pesanan.  


Robot ini dikendalikan oleh sistem penggerak elektrik yang mampu membawanya menelusuri trotoar dan halaman rumah customer dengan kecepatan hingga 18 km/jam. Sementara untuk menentukan lokasi dan alamat, robot ini dipandu oleh sistem GPS dan laser pemindai lingkungan sekitar.
DRU juga dilengkapi sistem kamera keamanan yang akan langsung memberi peringatan saat posisinya terancam oleh pencuri atau semacamnya.
Meski belum operasional, robot berharga USD 22.000 atau sekitar Rp 220 juta ini telah berhasil menjalani beberapa tes lapangan di kota Brisbane, sebagaimana dilansir dari situs lifehacker. “Robot ini benar benar otomatis dan mandiri. Namun segi AI (Artificial intelegence) nya sendiri masih perlu banyak peningkatan,” Ujar Don Meij, Pimpinan Domino’s Australia. “Terutama untuk membuat komputer sistemnya lebih tahan gangguan yang pastinya akan muncul di luar sana,” kata Meij lagi.(zetizen)



Sejarah Besakih dari Dieng, Raung dan Gunung Agung

PURNAMA kedasa, adalah piodalan Bethara Turun Kabeh di Pura Besakih, Karangasem. Tahun ini, Purnama Kedasa jatuh pada, Rabu, 23 Maret 2016. Sebelum tangkil, ada baiknya kita mengenal sejarah Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Berdasarkan lontar Markandeya Purana, ternyata Pura Besakih ada kaitannya dengan Gunung Raung di Jawa Timur. Ini berawal dari kedatangan Resi Markandeya bersama 8.000 pengikutnya ke daerah hutan belantara yang terletak di kaki Gunung Agung. Mereka datang dari daerah Gunung Hyang (diduga sebagai Gunung Dieng di Jawa Tengah saat ini).
Rombongan itu, datang tanpa menyeberangi lautan. Sebab, sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali) antara Pulau Bali dan Jawa adalah satu daratan yang dikenal dengan nama Pulau Dawa.  

BACA JUGA:

-  Ini Kisah Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa

-  Desa Pinggan, Salah Satu Tempat Teindah di Bali

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad


Resi Markandeya, adalah seorang yogi berasal dari Hindustan (India). Oleh para pengiring-pengiringnya disebut Bathara Giri Rawang karena kesucian rohaninya, kecakapan hingga kebijaksanannya).
Awalnya, Sang Yogi, bertapa di Gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah Dieng di Jawa Tengah yang berasal dan kata di-hyang). Sekian lamanya bertapa, Resi Markandeya mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar Sang Yogi dan para pengikutnya merabas hutan di Pulau Dawa. Setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.
Mendapat titah itu, Sang Yogi kemudian berangkat ke arah timur bersama 8000 orang pengikutnya. Tiba di lokasi, Resi Marakandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Tapi, saat merabas hutan, banyak para pengiringnya sakit, lalu meninggal. Ada juga meregang nyawa karena dimakan binatang buas.

Menyaksikan para pengikutnya berjatuhan, Resi Markandeya memerintahkan untuk menghentikan semua aktivitas. Sang Yogi kemudian kembali lagi ke tempat pertapaannya semula di Gunung Rawang, (kini digekenal sebagai Gunung Raung, di Jawa Timur).

Beberapa waktu kemudian, suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) Sang Yogi kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru. Kali ini disertai oleh para Resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha ke hadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu.
Setelah tiba di tempat yang dituju,Sang Yogi segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Kali ini, pekerjaan merabas hutan ini tidak ada halangan yang berarti.
Selesai merabas hutan, Sang Yogi mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.Di tempat dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi menanam kendi (payuk) berisi air, juga pancadatu yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama Basuki yang kemudian kini dikenal sebagai Desa dan Pura Besakih. (*)

Minggu, 20 Maret 2016

Menyemut, Bukti Tidak Segelintir yang Tolak Reklamasi

AKSI penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa terus bergulir. Minggu (20/3), ribuan orang menyemut di bundaran Ngurah Rai, Tuban, Badung, Bali. Mereka seolah membuktikan bahwa tudingan penolak reklamasi Teluk Benoa hanya segelintir tidak benar.
Ribuan massa datang dari 27 Desa Adat di Bali yang sudah resmi menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa oleh PT Tirta Wahana Bali Internasional  (TWBI). Ada juga dari kelompok aktivis lingkungan dan lainnya.  

Aksi demo dimulai dari Desa Adat Kelan menuju Bundaran Ngurah Rai dengan berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer. Beberapa spanduk yang berisikan kampanye Tolak Reklamasi Teluk Benoa dan batalkan Prepres no 51 thaun 2014 ikut dibawa massa.

“Kami menuntut pencabutan Perpres 51 tahun 2014 dan menolak reklamasi Teluk Benoa,” kata salah satu warga.
“Tolak Reklamasi Teluk Benoa,” teriak sejumlah warga sambil mengacung-acungkan spanduk penolakan.  
Demonstrasi dimulai sekitar pukul 14.00. Mereka kompak menggunakan pakaian adat dengan baju dan udeng putih. Mereka juga membawa ogoh-ogoh bertuliskan tolak reklamasi. 

Semua atribut yang dibawa warga berisi kecaman atas reklamasi Teluk Tanjung Benoa. Aksi mendapat pengawalan ketat polisi dan menjadi perhatian bule. (*)

foto: Dishub Provinsi Bali

BACA JUGA

-  Bali Diserang Alien Berdasi dalam Bli Gede Tolak Reklamasi

-  Teori Einstein Dibuktikan Setelah Seabad